Bukan Cuma Seng, Petani Jatiluwih Bentangkan Plastik

TABANAN, Kilasbali.com – Aksi pemasangan seng oleh para petani pemilik bangunan yang dikategorikan melanggar aturan tata ruang berlanjut pada Jumat (5/12).
Bahkan bukan hanya seng, beberapa di antarnya juga membentangkan plastik hitam untuk menutup pemandangan sawah mereka yang sudah siap panen.
Upaya ini mereka lakukan sebagai bentuk protes usai beberapa bangunan warung ditutup saat Panitia Khusus Tata Ruang dan Aset Pemerintah (Pansus TRAP) sidak beberapa waktu lalu.
Sebagian besar seng atau plastik itu dipasang di dekat Warung Sunari yang posisinya cukup mencolok bila dilihat dari Tugu Warisan Budaya Dunia (WBD) Unesco.
Setidaknya ada puluhan lembar pelat seng yang mereka pasang di seputaran tempat tersebut. Termasuk bentangan plastik hitam dengan lebar satu meter dan panjang sekitar 40 meter.
“Masih ada kiriman 65 seng tambahan. Besok akan dipasang lagi,” sebut I Wayan Subadra, pemilik warung Wayan di Banjar Gunung Sari, Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel.
Subadra yang warungnya masuk ke dalam titik pelanggaran menyebut, aksi ini sebagai bentuk solidaritas mereka sebagai sesama warga Jatiluwih.
Ia berharap, pemerintah membuka ruang dialog untuk mengurai persoalan tata ruang dan ekonomi warga setempat.
“Aksi ini kami lakukan agar pemerintah mau duduk bersama mencari solusi terbaik. Kami berharap ada aturan baru agar persoalan seperti ini tidak terulang,” tegasnya.
Demikian halnya dengan petani lainnya seperti I Nengah Sridana. Ia menyebutkan bahwa pemasangan seng juga dilakukan di kawasan Tempek Telabah Gede dan Telabah Muntig.
Sementara plastik hitam mereka pasang di sepanjang sisi jalur tracking yang sebetulnya merupakan jalan subak namun sering dipakai untuk lalu lalang wisatawan.
“Kami melakukan ini supaya ke depannya usaha kecil tidak langsung ditindak. Kami ingin pemerintah mendengar suara rakyat,” tukasnya. (c/kb).

















