Abrasi Jadi Tantangan Promosi Pantai Klecung sebagai Tempat Wisata Alternatif

TABANAN, Kilasbali.com – Rencana Pemerintah Desa Tegal Mengkeb, Kecamatan Selemadeg, untuk mempromosikan Pantai Klecung sebagai tempat wisata alternatif di Kabupaten Tabanan rupanya bukan tanpa rintangan.
Abrasi atau pengikisan garis pantai oleh gelombang menjadi salah satu tantangan berat yang mesti dihadapi pemerintah desa. Padahal Desa Tegal Mengkeb sudah tercatat sebagai desa wisata dengan Pantai Klecung sebagai objek andalannya.
“Terus (abrasi). Sudah masuk ke dalam. Dekat pinggir jalan,” ungkap Perbekel Desa Tegal Mengkeb, Dewa Made Widarma, pada Rabu (22/10).
Ia memperkirakan, wilayah yang terkikis sudah mencapai kedalaman empat meter dari garis pantai dengan panjang sekitar lima ratus meter.
“Beberapa waktu lalu dua bangunan sudah rusak akibat gelombang besar. Satu bangunan pemantau aktivitas nelayan dan satu lagi balai tempat jukung nelayan,” ujarnya.
Baik bangunan pemantau aktivitas nelayan dan tempat jukung atau perahu nelayan itu sudah rata dengan tanah. “Bagaimana ya? Ini faktor alam,” keluhnya.
Di awal, pihaknya memang berharap Pantai Klecung bisa menjadi objek wisata andalan Desa Tegal Mengkeb sebagai tempat berlibur alternatif.
Karena itu, pada 2022 pihaknya sempat berupaya mempromosikan Pantai Klecung dengan membuat semacam festival.
Namun, event itu tidak terdengar lagi kelanjutannya karena kondisi pantai yang rusak akibat abrasi.
“Itu (abrasi menjadi penyebab) salah satunya. Selain itu, kami sekarang fokus buat festival di tingkat kecamatan,” imbuhnya.
Ia menyebutkan, sempat ada investor yang hendak membantu mencegah kerusakan pantai akibat abrasi tersebut dengan memasang pemecah gelombang.
Menurutnya, dengan rencana itu kemungkinan abrasi di Pantai Klecung akan teratasi. Namun, di sisi lain, rencana itu bisa membuat kondisi jalan menuju pantai akan rusak.
“Di sisi lain akan ada masalah baru. Jalan yang dilalui kendaraan yang mengangkut paku (pemecah gelombang) akan rusak. Dari Megati sampai Klecung. Serba salah,” sebutnya.
Padahal, sambungnya, prospek Pantai Klecung sebagai tempat wisata alternatif cukup potensial.
Apalagi selama ini, Pantai Klecung sering dipakai sebagai tempat melasti atau ritual seperti Banyupinaruh oleh warga sekitar.
Widarma menyebutkan, sejauh ini pihaknya belum ada mengusulkan adanya pencegahan agar abrasi tidak meluas “Terlebih abrasi ini kan karena faktor alam,” pungkasnya. (c/kb)

















