Puluhan Siswa SMP Sekolah Rakyat di Mahatmiya Cek Kesehatan di Hari Pertama

TABANAN, Kilasbali.com – Sekolah Rakyat untuk jenjang SMP yang terpusat di Sentra Mahatmiya Bali mulai beraktivitas pada Senin (14/7).
Di hari pertama tersebut, puluhan siswa dari berbagai daerah di Bali tersebut mengikuti cek kesehatan.
Cek kesehatan itu dilakukan untuk memastikan para siswa siap dari sisi kesehatan selama mengikuti kegiatan belajar di Sekolah Rakyat.
“Ketika ada semacam sakit, mereka akan diterapi dulu sebelum mengikuti kegiatan,” jelas Kepala Sentra Mahatmiya Bali Sumarno Sri Wibowo.
Aktivitas berikutnya, sambung Sri Wibowo, adalah Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) seperti aktivitas pertama siswa di sekolah umumnya.
“Ini penting karena mereka datang dari berbagai daerah. Kami memperkenalkan lingkungan sekolah seperti apa. Termasuk nanti kurikulumnya. Ini semacam masa orientasi,” imbuhnya.
Untuk kurikulum, penjelasannya secara teknis akan disampaikan oleh jajaran guru. Secara umum, kurikulum yang akan diterapkan nantinya akan disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
“Misalnya ada satu anak berkebutuhan khusus, kalau perlu pendampingan, kami akan berikan pendampingan untuk pembelajaran secara individual,” jelasnya.
Selain berlajar seperti siswa di sekolah lainnya, para siswa SMP di Sekolah Rakyat juga akan mendapatkan pembinaan bakat.
Karena itu, di awal kegiatan, para siswa juga akan menjalani tes DNA untuk mengetahui potensi bakat masing-masing.
“Misalnya anak tersebut punya bakat di sepak bola, kami akan ikutkan ke klub sepak bola,” jelasnya.
Di tahun ajaran 2025/2026, jenjang pendidikan SMP di Sekolah Rakyat yang terpusat di Sentra Mahatmiya terdiri dari 75 orang.
Mereka terdiri dari 61 anak dari Kabupaten Tabanan, tujuh anak dari Buleleng, tiga anak dari Badung, dan empat anak dari Kota Denpasar. “Syarat utamanya, mereka dari desil satu dan dua,” imbuhnya.
Untuk kegiatan belajar mengajar nantinya, Sekolah Rakyat di Sentra Mahatmiya akan terdiri dari satu orang kepala sekolah dan dua belas guru.
Kemudian, ada pula wali asrama yang terdiri dari dua orang dan bertugas selama 24 jam terhadap seluruh anak-anak selama di asrama.
Berikutnya, wali asuh yang juga pekerja sosial dari Kementerian Sosial. Total akan ada delapan orang wali asuh yang mendampingi seluruh anak-anak yang bersekolah tersebut.
“Bisa saja mereka kesulitan mengikuti Pelajaran, mereka (wali asuh) yang akan membantunya,” pungkas Sri Wibowo. (c/kb)

















