Putri Koster Tanamkan Rasa Kesetiakawanan dari Lingkungan Keluarga

DENPASAR, Kilasbali.com – Ketua TP PKK Provinsi Bali Putri Koster mengajak masyarakat untuk terus tumbuhkan sikap kesetiakawanan sosial terutama bagi penyandang disabilitas dari lingkungan keluarga. Karena menurutnya keluarga itu sebagai pilar utama, di mana bisa menjadi tempat pembentukan karakter seluruh anggota keluarga
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam dialog interaktif Bahtera dengan tema Menumbuhkan SIkap Kesetiakawanan Sosial Bali Penyandang Disabilitas serangkaian untuk menyambut Hari Kesetiakawanan Sosial Nasional (HKSN) yang jatuh setiap tanggal 20 Desember, bertempat di Studio TVRI, Denpasar, Rabu (8/12/2021).
Pada kesempatan tersebut, wanita yang akrab disapa sebagai Bunda Putri mencontohkan bahwa keluarga menjadi pilar utama dalam menumbuhkan sikap tersebut.
“Kita bisa kasi contoh di lingkungan keluarga terlebih dahulu, Bapak atau Ibu dalam mendidik dan melaksanakan tugas harus berlandaskan kasih sayang. Bagaimana orang tua bisa menjadi contoh dan mengaplikasikan rasa kasih sayang dan toleransi kepada sesama. Sehingga dicontoh oleh anak-anak mereka,” jelasnya dalam acara yang juga menghadirkan Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali I Dewa Gede Mahendra Putra serta dipandu oleh presenter Ovi Diandra.
Selanjutnya, pendamping Orang Nomor Satu di Bali itu pun melanjutkan jika TP PKK sebenarnya sudah mempunyai program berbagi yang langsung menyentuh masyarakat hingga ke daerah-daerah.
Dikatakannya program PKK dibagi menjadi dua, yaitu yang pertama adalah sosialisasi, yaitu mengajak seluruh komponen untuk bergerak membantu masyarakat yang membutuhkan. “Berikutnya program kedua yaitu aksi sosial, di mana kita mengeksekusi langsung beberapa program yang kita sosialisasikan,” imbuhnya.
Lebih jauh, ia pun menyinggung tentang berbagai kebutuhan para penyandang disabilitas. Menurutnya, kebutuhan mereka hingga saat ini bukanlah dikasihani, namun mereka membutuhkan ruang dan kesetaraan hak dan kewajiban dengan masyarakat pada umumnya.
“Untuk itu kita harus bisa memposisikan diri dengan mereka. Tentu saya apresiasi sikap masyarakat yang punya kesadaran untuk membantu mereka, namun lebih baik kita bergerak untuk ikut mewujudkan persamaan hak dan kewajiban. Karena itu juga bentuk kesetiakawanan,” jelasnya. (jus/kb)

















