LPD Kota Tabanan Bergejolak, Nasabah Tak Bisa Tarik Tabungan Diduga Dana Diselewengkan Oknum Pengurus

TABANAN, Kilasbali.com– Belakangan ini sejumlah Lembaga Perkreditan Desa (LPD) di wilayah Tabanan mengalami permasalahan sehingga menyebabkan ratusan nasabah dirugikan. Kali ini LPD Kota Tabanan menambah daftar LPD di Tabanan yang tidak sehat. Lantaran ratusan nasabahnya tidak bisa menarik tabungan mereka karena kas yang tersisa di LPD tersebut hanya Rp 60 juta saja. Diduga dana nasabah diselewengkan oleh oknum pengurus di LPD tersebut.
Berdasarkan informasi yang dihimpun di lapangan, belakangan ini banyak nasabah LPD yang tidak bisa menarik tabungannya. Begitu pun dengan nasabah yang memiliki deposito dan sudah jatuh tempo. Padahal LPD Kota Tabanan ini memiliki nasabah cukup banyak karena mencakup 24 Banjar Adat yang ada di Desa Pekraman Kota Tabanan.
Atas kondisi tersebut, pada hari Kamis (13/12/2018) sekitar pukul 19.30, dipimpin oleh Bendesa Adat Kota Tabanan I Gede Wayan Samba dilakukan pertemuan yang membahas perihal persoalan yang dihadapi LPD Kota Tabanan di Wantilan Adat Kota Tabanan dan dihadiri pengurus LPD, para Kelian Dinas, dan Kelian Adat se Desa Pekraman Kota Tabanan.
Sumber di lapangan menyampaikan bahwa, dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa permasalahan LPD Kota Tabanan telah dilaporkan ke Pembina Lembaga Perkreditan Desa Kabupaten dan melakukan audit terhadap LPD tersebut dimana diketahui kas LPD Kota Tabanan saat ini hanya Rp 60 Juta dan dana yang tersimpan di brankas sudah tidak ada. Diduga ada dana yang diselewengkan oleh oknum pengurus LPD yakni Ketua atau Manajer, Sekretaris dan Bendahara dengan nominal mencapai Rp 1,2 Miliar. “Dan dari hasil audit internal kredit macet dari tahun 2014 itu hampir 90 persen, kemudian kerugian LPD ditahun 2017 Rp 515 juta dan tahun 2018 Rp 175 Juta. Sedangkan sisa kas saat ini hanya Rp 60 Juta,” ungkap sumber yang enggan dikorankan namanya.
Maka dari itu, disepakati solusi agar nasabah yang meminjam kredit di LPD Kota Tabanan untuk bisa segera melunasi, sedangkan bagi nasabah yang memiliki deposito diharapkan bisa maklum dan tidak melakukan penarikan dulu meskipun sudah jatuh tempo. Sehingga penarikan uang bisa diprioritaskan untuk nasabah yang memiliki tabungan, lantaran saat ini banyak nasabah yang ingin menarik uang karena menjelang hari raya. “Serta disepakati, jalur hukum akan ditempuh apabila tidak ada solusi lagi,” sambungnya.
Pasalnya saat ini Ketua atau Manajer LPD atas nama I Nyoman Bawa yang digadang-gadang paling mengetahui aliran dana tidak diketahui keberadaannya. Bahkan setelah dicari kerumahnya, keluarganya mengatakan bahwa yang bersangkutan sedang berobat ke luar daerah. Sehingga untuk sementara dipilih manajer baru serta dibentuk panitia diluar pengurus LPD untuk menindaklanjuti permasalahan tersebut.
Sementara itu, salah seorang nasabah yang tidak ingin dikorankan namanya menuturkan bahwa ia baru mendengar kabar perihal adanya permasalahan di LPD Kota Tabanan tersebut pada hari Minggu (16/12/2018) lalu. Ketika itu, ia tengah mengantar sang istri ke pasar yang ada di salah satu Banjar dan mendengar kabar bahwa LPD Kota Tabanan bermasalah sehingga banyak nasabah tidak bisa menarik tabungan maupun deposito. Hal tersebut jelas membuat dirinya terkejut, karena ia sendiri memiliki tabungan sebesar Rp 40 Juta yang rencananya akan ditarik menjelang Hari Raya Galungan untuk keperluan Yadnya dan membangun dirumahnya. “Saya kaget ternyata di pasar beritanya ramai kalau LPD bermasalah,” ujarnya saat ditemui Selasa (18/12/2018).
Selanjutnya pada siang harinya langsung mendatangi LPD Kota Tabanan yang berlokasi di Jalan Pahlawan, Tabanan, tepatnya disebelah utara Setra Kota Tabanan. Ia pun menyampaikan bahwa ia ingin menarik uang tabungannya kepada petugas. “Saya bilang kalau saya mau menarik tabungan saya, ternyata benar petugas bilang kalau sementara tidak bisa menarik tabungan. Dan saya diminta datang lagi tanggal 24 Desember 2018, tetapi mungkin tidak semua tabungannya bisa ditarik karena ada banyak nasabah yang juga ingin menarik tabungan. Sedangkan kas LPD sudah menipis,” imbuhnya.
Padahal uang tabungan tersebut ia kumpulkan sedikit demi sedikit sejak empat tahun belakangan ini ditambah dengan uang hasil pinjaman di bank yang ia simpan di LPD, dan rencananya akan ditarik untuk membangun rumah. Ia pun berharap uang tabungannya bisa ditarik begitu pun dengan uang nasabah lainnya. “Sebenarnya itu juga uang dari minjam di bank, saya sengaja simpan di LPD biar gampang nariknya saat ada kebutuhan mendadak. Sampai saya dimarahi saudara-saudara saya, tetapi karena saya percaya ya mau bagaimana lagi,” pungkasnya.
Hal serupa disampaikan nasabah lainnya yang memiliki tabungan Rp 80 juta. Ia mengatakan bahwa menurut informasi yang ia dengar, dana yang ada di LPD Kota Tabanan memang diselewengkan oleh oknum Manajer, Sekretaris dan Bendahara. Namun kini oknum Manajer tidak diketahui keberadaannya. Ia pun berharap oknum tersebut bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya sehingga bisa mengembalikan uang para nasabah. “Soalnya banyak nasabah juga punya deposito tidak sedikit, bahkan ada yang totalnya sampai Rp 500 Juta, tabungan saya juga Rp 80 juta. Katanya tanggal 24 Desember 2018 ini bisa menarik tabungan, tetapi palingan tidak bisa ditarik semua, karena kasnya memang sudah menipis,” ujarnya.
Ia pun belum memiliki pikiran untuk membawa permasalahan ini ke jalur hukum karena sudah disepakati diselesaikan secara internal dulu. Padahal pihaknya sendiri takut jika oknum tersebut tidak bisa mengembalikan uang nasabah sehingga ia akan menyarankan panitia penyelamatan LPD yang dibentuk untuk menginventaris aset-aset yang dimiliki para oknum tersebut. “Kalau memang oknum ini yang menyelewengkan dana LPD saya harap mereka bisa bertanggungjawab mengembalikan uang nasabah. Karena kalau dibawa ke jalur hukum gampang saja, mereka dipenjara tapi uang kami tidak kembali,” tandasnya.
Dikonfirmasi terpisah, Bendesa Adat Kota Tabanan, I Gede Wayan Samba nampak enggan berkomentar mengenai permasalahan tersebut. Dirinya mengaku tidak berani memberikan statemen apapun karena saat ini sudah ada Bendesa Adat Baru yang telah terpilih. “Saya tidak berani berkomentar apa-apa,” ujarnya. (*KB).

















