Disbud Tabanan Siapkan Konsep Pengelolaan Museum Subak Meski Belum Dihibahkan Pusat

TABANAN, Kilasbali.com – Dinas Kebudayaan (Disbud) Tabanan mulai menyusun konsep pengelolaan dan pemanfaatan Museum Subak Sanggulan secara mandiri meski statusnya belum dihibahkan kembali oleh Pemerintah Pusat.
Penyusunan konsep pengelolaan Museum Subak ini dilakukan untuk memacu angka kunjungan wisatawan di masa mendatang. Sebab, selama ini jumlah kunjungan wisataan ke Museum Subak masih tergolong minim.
Dalam skema pengelolaan itu, Disbud Tabanan berencana mengintegrasikan Museum Subak Sanggulan ke dalam koridor pariwisata unggulan daerah yang menghubungkan kawasan Jatiluwih di wilayah hulu dengan kawasan Pakendungan hingga Tanah Lot di wilayah hilir.
Penataan rute persinggahan ini diharapkan mampu mengubah museum dari sekadar fasilitas studi terbatas menjadi destinasi wisata edukasi kebudayaan.
Kepala Disbud Tabanan, Dewa Putu Mahendra, menyampaikan bahwa pihak pemerintah daerah telah berkoordinasi secara intensif dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida agar penyelesaian pembangunan fisik gedung museum segera dirampungkan sesuai dokumen perencanaan awal.
“Kami ingin mengelola museum ini dengan serius. Sayang sekali jika fasilitas yang ada tidak dimanfaatkan secara optimal,” ujar Dewa Putu Mahendra pada Senin (19/10).
Mahendra membeberkan, tingkat kunjungan ke Museum Subak Sanggulan saat ini masih memprihatinkan.
Kunjungan yang ada hanya didominasi oleh rombongan pelajar maupun mahasiswa untuk keperluan penelitian akademis, bahkan dalam kurun waktu satu pekan kerap tidak tercatat adanya pengunjung sama sekali.
Pada bulan sebelumnya, data pengelola hanya mencatat kedatangan dua rombongan mahasiswa dengan total akumulasi sekitar 20 orang.
Rendahnya angka kehadiran tersebut memicu kekhawatiran Disbud Tabanan untuk segera memoles daya tarik museum agar lebih diminati publik serta wisatawan mancanegara.
Di sisi lain, perampungan sarana dan prasarana fisik museum tersebut masih membentur kendala penganggaran di tingkat pusat.
Berdasarkan hasil komunikasi dengan pihak BWS, proyek pembangunan lanjutan terdampak oleh adanya pemotongan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK).
Meski terdapat penundaan penyelesaian fisik dari pemerintah pusat, Disbud Tabanan tetap bergerak menyiapkan tata kelola konten edukasi.
Posisi geografis museum yang berada tepat di tengah perlintasan objek wisata utama dinilai sangat strategis untuk mengait wisatawan yang melintas dari arah pegunungan menuju pantai.
Melalui konsep persinggahan terpadu tersebut, para pelancong tidak hanya disuguhi panorama alam, melainkan juga memperoleh pemahaman komprehensif mengenai tata kelola irigasi tradisional subak, sistem pertanian lokal, kesenian, hingga kebudayaan Bali.
Pemerintah daerah menaruh harapan besar agar pembenahan konsep pengelolaan ini mampu menghidupkan kembali denyut museum sebagai pusat pelestarian warisan budaya dunia.
“Kami berharap museum ini mendapat bagian dari arus kunjungan pariwisata sehingga bisa berkembang dan memberikan manfaat. Wisatawan juga mendapatkan edukasi yang lebih intensif mengenai subak dan budaya Bali,” katanya. (c/kb)

















