Wabup Tabanan Ingin Festival Tanah Lot Jadi Corong Promosi Tempat Wisata Lainnya di Tabanan

TABANAN, Kilasbali.com – Wakil Bupati (Wabup) Tabanan, I Made Dirga, menginginkan agar sektor pariwisata dapat menyebar dan berkembang ke destinasi lain di Tabanan, tidak hanya berpusat di Daerah Tujuan Wisata (DTW) Tanah Lot.
Karena itu, ia berharap Festival Tanah Lot atau Tanah Lot Art and Food Festival bisa menjadi corong promosi bagi tempat wisata potensial lainnya yang tersebar di berbagai tempat di Tabanan.
Dirga menyampaikan harapannya itu usai membuka Festival Tanah Lot ke-7 Tahun 2026 pada Jumat (28/8). Ia menyebut, festival tahunan ini sejalan dengan gagasan Tabanan Titik Kumpul yang dicetuskan oleh Bupati Tabanan.
Ajang ini dimanfaatkan pemerintah daerah sebagai wadah promosi keindahan alam, kuliner, hingga seni budaya. “Meskipun Tanah Lot sudah dikenal, promosi pariwisata masih perlu dilakukan,” ujar Dirga.
Ia berharap DTW Tanah Lot dapat menjadi induk bagi destinasi wisata lainnya di seluruh Kabupaten Tabanan. Dengan demikian, daya tarik pariwisata di daerah lain juga dapat ikut terangkat. “Sehingga ajang ini kami pakai untuk kepentingan itu,” ungkapnya.
Ia mencontohkan beberapa destinasi wisata potensial yang perlu dikembangkan, seperti Pantai Soka dan Selabih di Kecamatan Selemadeg Barat, serta Yeh Gangga di Kecamatan Tabanan. “Sehingga tempat wisata lainnya bisa berkembang,” sambungnya.
Ia menilai pariwisata merupakan bonus bagi Tabanan yang lebih dikenal sebagai kawasan agraris. Namun, di saat yang sama, ia juga mewanti-wanti agar seluruh komponen daerah tidak gagap dalam menyikapi pergeseran pergerakan wisatawan.
“(Aktivitas) pariwisata sudah bergeser dari Kuta ke Canggu. Kemudian dari Tabanan. Kami berharap Tabanan juga tidak kelabakan dengan perkembangan seperti itu,” tegas Dirga.
Di sisi lain, upaya menyebarkan promosi wisata ini didukung penuh oleh proyeksi perputaran ekonomi yang besar selama festival berlangsung pada 28-30 Agustus 2026.
Festival yang digelar selama tiga hari ini diprediksi mampu mendorong transaksi keuangan hingga Rp 10 milar.
Manajer Operasional DTW Tanah Lot, I Wayan Sudiana, menerangkan target perputaran ekonomi tersebut sangat rasional karena didorong oleh target kunjungan yang besar.
Pihak pengelola membidik kedatangan hingga 10 ribu pelancong setiap harinya. “Target 10 ribu itu ada dasarnya. Kunjungan normal sekarang ini sudah mencapai 4.500, hampir 5.000 orang per hari,” jelas Sudiana, sebelumnya.
Ia menambahkan, sasaran utama festival ini menitikberatkan pada penataan promosi jangka panjang bagi ekosistem pariwisata lokal. Demi menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar, panitia melibatkan 30 pelaku UMKM, 10 IKM, dan 26 pedagang pasar malam (night market).
“Tujuan kita bukan selling. Ini promosinya. Kita ingin dampaknya tetap berlanjut sampai ke masa depan,” terangnya.
Penyelenggaraan rangkaian festival ini sendiri dibagi menjadi dua segmen waktu setiap harinya.
Segmen pertama berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 18.30 Wita dengan sasaran utama para wisatawan yang berkunjung ke Tanah Lot.
Pada siang hari ini, pengunjung disuguhkan aneka seni tari tradisional Bali, pertunjukan gamelan, hingga pameran kuliner khas Tabanan yang menyajikan makanan utama dan jajanan tradisional langka.
Puncak segmen pertama dikemas menarik melalui konsep “Sunset in Paradise”. Ribuan orang akan diajak menyaksikan parade budaya yang menampilkan gebogan megah dengan iringan barisan baleganjur melintasi jalur kawasan DTW Tanah Lot.
Memasuki malam hari, suasana festival bergeser menjadi lebih meriah pada segmen kedua dari pukul 18.30 hingga 22.00 Wita.
Pementasan kesenian bondres serta konser musik dari seniman dan artis lokal populer Bali disiapkan untuk menghibur masyarakat umum di Panggung Utama dan Panggung Budaya. (c/kb)

















