PELANGI Tabanan Resmi Dikukuhkan untuk Jaga Tradisi Melayangan

TABANAN, Kilasbali.com – Pengurus Persatuan Layang-layang Indonesia (PELANGI) Kabupaten Tabanan masa bakti 2026–2031 resmi dikukuhkan di Balai Banjar Adat Bengkel Kawan, Desa Bengkel, Kecamatan Kediri, pada Minggu (17/5).
Organisasi ini mengemban misi besar untuk memperkuat pelestarian seni budaya layang-layang tradisional Bali atau melayangan sebagai identitas daerah di tengah arus modernisasi.
Momentum pelantikan ini dirangkaikan dengan penutupan serta penyerahan hadiah ajang GANECA KITES IX, sebuah kompetisi yang selama ini menjadi ruang kreativitas bagi komunitas layangan di Bali.
Pembentukan kepengurusan baru tersebut berpijak pada Surat Keputusan Ketua Umum PELANGI Bali Nomor 18/PELANGI BALI/V/2026 tertanggal 17 Mei 2026.
Dalam struktur kepengurusan yang baru, Ketut Arsana Yasa yang akrab disapa Sadam dipercaya menakhodai organisasi sebagai ketua.
Sementara posisi sekretaris dipercayakan kepada I Gusti Ketut Artayasa serta I Wayan Sudiana yang menjabat sebagai bendahara umum.
Sementara Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, ditempatkan sebagai pelindung organisasi sebagai representasi dukungan pemerintah daerah.
Sedangkan posisi penasihat diisi oleh I Made Dirga bersama I Putu Eka Putra Nurcahyadi untuk memperkuat arah kebijakan organisasi ke depan dalam menjaga tradisi lokal.
Selain aspek pelestarian budaya, PELANGI Tabanan diproyeksikan menjadi wadah untuk membangun sportivitas dan mempererat rasa persaudaraan antarpengiat layangan.
Kehadiran wadah resmi ini diharapkan mampu menciptakan ruang pembinaan yang sehat bagi generasi muda melalui berbagai agenda kreatif dan perlombaan.
Pengurus baru ini juga dibebankan tanggung jawab untuk menyusun program kerja yang terarah serta menjaga nama baik komunitas.
Selain rutin berkoordinasi dengan PELANGI Bali, organisasi ini akan berperan aktif dalam pelaksanaan berbagai festival layang-layang untuk memastikan tradisi ini tetap eksis di Bali.
“Kami ingin mewadahi dan menaungi semangat para yowana atau pemuda yang tergabung dalam sekaa Rare Angon atau komunitas pecinta layanan untuk melestarikan tradisi melayangan,” jelas Sadam secara terpisah.
Menurutnya, tradisi melayangan di Bali tidak hanya sekadar sebuah permainan semata. Lebih dari itu, tradisi melayangan di Bali juga erat kaitannya dengan unsur spiritual dan keagamaan yang berkaitan dengan Sang Hyang Rare Angon.
“Karena ada unsur sakral atau sisi niskalanya. Bagaimana mengusung kesukertaan Sang Hyang Rare Angon di musim kemarau yang nantinya menganugerahkan hujan menjelang masa tanam berikutnya,” jelasnya.
Selain itu, di masa sekarang, permainan layangan juga penuh dengan kemunculan berbagai inovasi bentuk yang perlu diapresiasi melalui pelaksanaan event atau festival layangan.
“Sekarang penuh inovasi baru, celepuk, begitu juga dengan layangan kreasi lainnya. Di balik itu, kita juga harus tetap melestarikan layangan tradisi Bali lewat event atau festival yang akan kami upayakan ke depannya,” pungkasnya. (c/kb)

















