Siasati Gejolak Harga Kedelai, Pengusaha Tempe di Tabanan Kurangi Ukuran

TABANAN, Kilasbali.com – Pengusaha tempe di Kabupaten Tabanan lagi memutar otak untuk menyiasati gejolak harga kedelai impor dengan mengurangi ukuran ketebalan agar harga jual ke konsumen tidak naik.
Cara ini terpaksa mereka lakukan agar bisa terus berproduksi sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat di tengah kondisi ekonomi global yang diterpa ketidakpastian.
Mohammad Sabdullah (31), salah satu produsen tempe di Desa Dauh Peken, mengungkapkan harga kedelai sempat menyentuh angka Rp 11.650 per kilogram akibat konflik di Timur Tengah.
Meski saat ini harga turun ke level Rp 10.950 per kilogram, beban operasional pengusaha tetap berat karena harga plastik pembungkus melonjak dari Rp 415 ribu menjadi Rp 600 ribu per bal.
“Agar harga ke pembeli tidak naik, salah satu caranya ya kami memperkecil ketebalan tempe,” ujar Sabdullah yang punya tempat usaha di lingkungan Pasar Kodok pada Kamis (9/4).
Saat ini, Sabdullah memilih mengurangi ketebalan tempenya sekitar setengah sentimeter dari ukuran normal.
Dengan cara seperti ini, ia masih bisa memasang harga jual Rp 5.000 per potong untuk tempe dengan panjang 20 sentimeter.
“Kalau ukuran tebal sebelumnya itu 2,5 sentimeter. Kami tipiskan jadi dua sentimeter. Tapi, panjangnya tetap dua puluh sentimeter,” bebernya.
Ia enggan memilih untuk menaikkan harga jual dengan pertimbangan psikologi konsumen. Menurutnya, selama ini tempe sudah dikenal sebagai bahan pangan yang murah meriah.
Justru, kalau ia memaksakan diri untuk menaikkan harga, pembeli bisa beralih ke bahan pangan lainnya. Sehingga, ujung-ujungnya usahanya bisa mengalami penurunan produksi.
“Tempe itu terlanjur dikenal sebagai makanan yang harga jualnya murah. Kalau dinaikkan, yang beli tentu berpikir untuk membelinya,” sebutnya.
Sehari-harinya, Sabdullah memproduksi sekitar 300 potong tempe dengan keperluan kedelai sebagai bahan baku antara 90 sampai satu kuintal.
Ia berharap, harga kedelai di pasaran sekarang ini bisa kembali stabil di kisaran Rp 8 ribu sampai Rp 9 ribu per kilogram. Dengan demikian, ia bisa kembali menambah ketebalan ukuran tempe seperti sebelumnya.
“Kalau diingat-ingat, kenaikan (harga kedelai) yang paling tinggi itu pas zaman Corona (pandemi Covid-19). Waktu itu sampai Rp 12.500 per kilogram. Waktu itu saya tipiskan juga ukurannya,” pungkasnya. (c/kb)

















