Layanan MRI RS Tabanan Terhenti Satu Setengah Tahun Akibat Mesin Rusak

TABANAN, Kilasbali.com – Layanan pemeriksaan Magnetic Resonance Imaging (MRI) yang ada di RSU Tabanan rupanya sudah terhenti sejak satu setengah tahun terakhir ini.
Pemicunya, mesin utama layanan pemeriksaan medis dengan medan magnet dan gelombang radio untuk menghasilkan gambar detail organ, tulang, dan jaringan lunak dalam tubuh itu yang mengalami kerusakan.
Karena itu, pihak rumah sakit harus merujuk pasien yang memerlukan layanan MRI ke rumah sakit lain atau fasilitas kesehatan lainnya.
Direktur Utama RS Tabanan, dr. I Gede Sudiarta, menjelaskan bahwa mesin yang sudah ada sejak 2009 itu sudah tidak bisa difungsikan meski telah berulang kali diperbaiki.
Bahkan saat ini, komponen mesin tersebut telah dibongkar sepenuhnya untuk menjalani proses lelang.
“Kurang lebih sudah satu setengah tahun tidak bisa digunakan karena rusak berat. Komponen alat sudah dibongkar dan dilelang,” ujar Sudiarta pada Jumat (5/6).
Sebelum mengalami kerusakan, layanan MRI di rumah sakit milik pemerintah daerah ini setidaknya melayani rata-rata dua hingga tiga pasien setiap harinya.
Manajemen RS Tabanan sebenarnya sudah mengupayakan usulan pengadaan mesin yang baru, namun terbentur aturan klasifikasi rumah sakit oleh kementerian terkait.
“Kami sudah beberapa kali mengajukan, bahkan audiensi ke pusat dengan dukungan dewan dan rekomendasi bupati. Namun karena status rumah sakit strata madya, pengadaan MRI tidak bisa melalui skema itu,” jelasnya.
Besarnya anggaran yang dibutuhkan juga menjadi penghambat utama pengadaan mandiri melalui APBD kabupaten.
Terlebih bila untuk menghadirkan teknologi MRI yang terbaru dan lebih modern dengan kekuatan 1,2 Tesla. Setidaknya, manajemen RS Tabanan perlu dana segar puluhan miliar rupiah.
“Estimasi biaya pengadaan mencapai sekitar Rp 40 miliar. Jadi anggaran (yang diperlukan) sangat besar,” tegasnya.
Sebagai solusi jangka panjang, RSUD Tabanan kini mulai menjajaki peluang Kerja Sama Operasional (KSO) dengan pihak ketiga.
Melalui model kemitraan ini, pihak rumah sakit tidak perlu terbebani biaya perawatan rutin yang sangat tinggi untuk alat-alat medis berteknologi canggih.
“Dengan KSO, perawatan menjadi tanggung jawab rekanan. Model ini cukup efektif untuk alat canggih seperti MRI, CT Scan, hingga cathlab,” pungkasnya. (c/kb)
















