Puri Mengwi Gelar Upacara Mapekelem di Ulundanu Beratan, Wisatawan Antusias Menyaksikan

TABANAN, Kilasbali.com – Aktivitas wisata di Ulundanu Beratan pada Sabtu (1/11) terasa berbeda dari hari-hari biasanya, terutama saat mendekati pukul 13.00 Wita. Perhatian dan antusiasme wisatawan tertuju pada sebuah ritual yang berlangsung di satu titik tepi danau.
Ritual itu tiada lain mulang pakelem atau mapekelem. Sebuah ritual persembahan dengan menenggelamkan beberapa ternak sebagai kurban ke tengah Danau Beratan.
Ritual yang mengakar pada konsep Danu Kerthi (menjaga kelestarian danau) ini bertujuan untuk memohon keselamatan bagi umat manusia dan keharmonisan alam semesta.
Ritual itu merupakan bagian penting dari rentetan upacara besar yang sedang berlangsung di Pura Penataran Agung Pucak Mangu, Desa Plaga, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung.
Upacara di Pura Luhur Pucak Mangu yang dinamakan Tawur Balik Sumpah Utama, Padudusan Agung, Menawa Ratna, Mapaselang, dan Mapadanan Medasar Tawur Balik Sumpah Utama akan mencapai puncaknya pada Rabu (5/11) bertepatan dengan Purnama Kalima.
“Acara ini merupakan bagian dari pelaksanaan upacara di Pura Luhur Pucak Mangu,” ujar Raja Mengwi, Ida Cokorda Mengwi XIII, selaku pangrajeg upacara.
Ia mengatakan, ritual ini kelanjutan dari ritual Segara Kerthi yang dilaksanakan pada 30 Oktober 2025 lalu. “Sekarang kami laksanakan ritual Danu Kerthi,” ujar mantan anggota DPD RI dan Bupati Badung dua periode tersebut.
Ia menjelaskan, dipilihnya Danau Beratan sebagai lokasi pelaksanaan ritual mapekelem ini dikarenakan Pura Ulundanu Beratan merupakan bagian dari Pura Penataran Agung di Pura Luhur Pucak Mangu.
Setelah ritual Danu Kertih di Ulundanu Beratan, upacara masih akan dilanjutkan dengan ritual Wana Kerthi yang akan berlangsung di tengah hutan Pucak Mangu.
Cokorda Mengwi menjelaskan, rentetan ritual yang berlangsung dalam upacara besar di Pura Luhu Pucak Mangu tersebut merupakan penjabaran dari konsep Tri Hita Karana.
Konsep yang berakar pada filosofi Hindu itu menekankan pentingnya menjaga keharmonisan hubungan antara manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), dan manusia dengan alam (palemahan).
“Dalam hal ini (upacara mapekelem) menjaga hubungan dengan lingkungan sekitar secara spiritual,” tegasnya.
Sementara itu, Pengabih Ida Cokorda Mengwi XIII, Gusti Agung Gede Mangun Ningrat, menuturkan prosesi Mulang Pakelem dipuput oleh empat pandita, dengan lima jenis wewalungan (hewan) sebagai sarana upacara, mulai dari kerbau, bebek, hingga kambing.
“Seluruh rangkaian Karya Agung ini dilaksanakan berdasarkan Purana Puncak Mangu pada 1999,” ungkapnya.
Dia juga menyebut, prosesi turut dihadiri sejumlah pejabat Pemkab Badung dan perwakilan dari Puri Agung Marga dan Puri Marga. “Semoga dengan yadnya ini seluruh umat memperoleh kesejahteraan dan kedamaian,” ujarnya.
Pelaksanaan upacara ini juga mendapatkan dukungan penuh dari Panureksa Pura Ulundanu Beratan, I Wayan Mustika. Terlebih upacara ini bertujuan untuk memberikan kesejahteraan bagi umat. “Dan kami berharap, dengan ritual ini, Danau Beratan lebih terjaga kelestariannya,” pungkasnya. (c/kb).

















