Harga Babi Anjlok, Mepatung Marak

GIANYAR, Kilasbali.com – Mensiasati harga daging babi hidup yang anjlok namun di harga babi potong di Pasar masih bertahan, kegiatan potong babi patungan alias mepatung kini marak.
Untuk memperbanyak peserta, hari suci Hindu bulanan seperti Purnama, Tilem hingga Tumpek dijadikan momentum. Satu tanding (bagian) yang berisikan sekitar 3 hingga 5 Kg, peserta hanya mengeluarkan uang Rp 150 hingga Rp 200 Ribu.
I Wayan Buncing Hartono (50), warga asal Desa Blega, Kamis (18/9) menyebutkan, dirinya bersama kelompoknya sudah melakukan pemotongan babi secara patungan sebanyak 4 kali sejak bulan Agustus. Berikutnya, dilakukan pemotongan pada hari Sabtu, (21/9) mendatang saat Tumpek Landep.
“Kami biasanya mengambil hari reraianan. Biar pesertanya mencukupi. Minimal sepuluh orang jika potong satu ekor babi. Kalau jumlahnya melebihi 15 orang kami potong dua ekor,” sebutnya.
Ide mepatung ini, awalnya dimaksudkan untuk membantu peternak di wilayahnya yang mengeluhkan harga pakan yang tinggi, namun harga babi hidup anjlok hingga Rp 35.000 per ekor.
Sementara pemasoknya kebanyakan stok dan kerap menggoyang harga hingga Rp 33 ribu jika ingin dijual segera.
Di sisi lain, warga lainnya yang membeli daging potong bersih di pasar masih terbilang mahal, yakni masih bertahan di harga Rp 80 ribu.
“Jalan tengahnya ya.. mepatung. Peternak dan warga konsumen sama-sama dapat harga yang layak,” terangnya.
Teknis pemotongan babi, sebutnya, dilakukan bergotong royong sehingga tidak terbebani biaya potong dan pembagian. Mengenai harga, tergantung pada berat babi hidup yang dipotong di bagi jumlah peserta.
“Cara hitungnya sederhana dan dilakukan bersama-sama. Satu tandingan ( bagian) rata-rata Rp 150 ribu hingga Rp 200 Ribu, tergantung berat babi dan jumlah peserta,” ungkapnya.
Secara terpisah, Ketua Gabungan Peternak Babi Indonesia (GUOBI) Daerah Bali, Ketut Harry Suyasa, mensinyalir pembebasan impor babi menjadi pemicu anjloknya harga babi.
Diperparah lagi dengan masuknya peternak luar Bali yang masuk sehingga populasi babi jadi membengkak. Menyikapi kondisi ini, pihaknya berharap ada standarisasi harga dari pemerintah.
Sementara Pejabat Fungsional Pengawas dan Pengendalian Ternak, Distannak Gianyar, Wayan Sudirka, menyebutkan jika over populasi babi di Bali jadi pemicu anjloknya harga babi.
Data data populasi di Gianyar bahkan kini tercatat sekitar 64 ribu ekor dibanding sebelumnya yang hanya 46 ribu ekor. “Siklus ini memang sering terjadi. Menjelang hari raya harganya cenderung naik lagi,” terangnya singkat. (Ina/kb)

















