Fadli Zon Dukung Keberadaan Museum Kebudayaan di Tabanan

TABANAN, Kilasbali.com – Kunjungan Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, ke Kabupaten Tabanan belum lama ini memberikan secercah harapan terkait upaya repatriasi sejumlah artefak yang berkaitan dengan sejarah Puputan Tabanan.
Tidak hanya itu, kunjungan yang diinisiasi oleh perupa Tabanan yang aktif di Surakarta atau Solo, I Gusti Nengah Nurata, itu juga membuka peluang hadirnya museum kebudayaan yang memuat berbagai peninggalan sejarah Tabanan di masa kerajaan.
Ini bahkan ditegaskan oleh Fadli Zon di hadapan para budayawan, seniman, akademisi, dan pemerintah dalam Temu Wicara Budaya di Gedung Kesenian I Ketut Maria pada Jumat (5/9) lalu.
Di momen itu, ia di kementerian akan berupaya membantu merealisasikan adanya museum itu.
“Saya mendukung usaha Bupati Tabanan untuk segera menjadikan Museum (kebudayaan) Tabanan. Kami akan bantu dan dukung supaya ini bisa menjadi bagian dari kantong-kantong budaya,” ujar Fadli Zon.
Di sisi lain, keberadaan museum seperti ini, sambung akan bermanfaat bagi negara untuk membangkitkan kebanggaan nasional warganya. “Dari situ pride nation atau kebanggaan nasional itu datang,” katanya.
Ia menambahkan, dalam urusan pemajuan kebudayaan, memang tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah baik dari kementerian, gubernur, hingga bupati/wali kota. Usaha ini harus dilaksanakan dengan sinergi dan kerja sama semua pihak.
“Bahkan kami menggerakkan swasta dalam memperbaiki situs candi perpustakaan dan lain lain,” sebut menteri yang hobi mengoleksi keris ini.
Fadli Zon menilai, dalam kunjungan singkatnya di Tabanan, ia melihat secara sepintas potensi seni dan budaya yang dimiliki Tabanan. Bahkan di masa sekarang, sejumlah seniman nasional juga datang dari Tabanan seperti I Nyoman Nuarta dan mendiang I Made Wianta.
Berikutnya, di seni tari ada sosok maestro I Ketut Maria yang di masa hidupnya melahirkan sejumlah tari ikonik yang diperkenalkan hingga ke dunia internasional. Selanjutnya di dunia sastra ada I Putu Wijaya dan I Gusti Putu Bawa Samar Gantang.
“Mungkin nanti keris-keris yang sudah berhasil kami kembalikan kapan waktu akan kami pamerkan secara temporer di museum baru. Kenapa tidak. Mungkin bisa buatkan kembarannya,” bebernya.
Ia menyebutkan, saat ini pihaknya masih berupaya melakukan repatriasi (mengembalikan) artefak-artefak yang banyak dibawa ke luar negeri pada masa kolonialisme. Sebagian ada yang sudah berhasil, ada yang belum berhasil, dan sebagian ada yang masih dalam proses.
“Contoh dengan Belanda. Sudah diupayakan repatriasi ini sejak awal kemerdekaan tapi pengembaliannya cukup panjang. Kadang tergantung pemerintah Belanda sendiri.
Beberapa waktu bulan lalu, saya bicara dengan Menteri Kebudayaannya. Katanya akan meneruskan program repatriasi di masa-masa kolonialisme,” jelasnya.
Sejauh ini, ada 800 item artefak yang telah direpatriasi termasuk keris Pupuan Badung, Puputan Tabanan, dan Lombok yang ada kaitannya dengan sejarah di Pulau Bali. Berikutnya ada juga arca-arca dari beberapa candi di Indonesia.
Sementara itu, I Gusti Ngurah Nurata selaku inisiator temu wicara budaya tersebut menyebutkan, Tabanan memiliki potensi untuk bisa memiliki museum kebudayaan dan kesenian.
Terlebih, di masa kolonialisme Belanda, dinamika sejarah kerajaan di Tabanan sangat beragam. Selain sebagai pusat pemerintahan, kerajaan tersebut juga menjadi pusat budaya dan kesenian hingga tahun 1906.
“Saya bermimpi akan elok bila dibangunkan sebuah museum. Sejarahnya dari kerajaan yang ada di Desa Buahan, kerajaan yang ada sekarang sebagai pusat kebudayaan. Tidak lagi menjadi kerajaan praktis ketika memasuki masa republik,” ungkap Nuarta pada Minggu (7/9).
Bahkan, fungsi kerajaan di masa lalu sebagai pusat kebudayaan dan seni melahirkan seniman-seniman dari berbagai kesenian. Misalnya I Ketut Maria yang karya tarinya seperti Oleg Tamulilingan dan Kebyar Duduk dikenal sampai mancanegara.
Begitu juga di Desa Belayu, Kecamatan Marga, ada I Gusti Ketut Putra yang dikenal sebagai seniman ukir dan ahli di bidang kosala-kosali atau konsep arsitektur tradisional Bali.
Berikutnya di Desa Pejaten, Kecamatan Kediri, berkembang kesenian gerabah dan keramik yang dikembangkan oleh Ke It, seorang Tiong Hoa yang lahir di Banjar Dauh Pala, Desa Dauh Peken, Kecamatan Tabanan.
Kemudian di Tanah Lot ada perupa yang nama populernya Teher dan Nodio. Disusul dengan masa berikutnya dengan adanya I Gusti Putu Wijaya dan I Gusti Putu Bawa Samar Gantang dalam sastra dan Nyoman Nuarta serta I Made Wianta di dunia seni rupa.
“Cukup kaya di sini kalau mau membuat museum (kebudayaan). Mumpung Bli Putu Wijaya masih hidup. Mumpung Samar Gantang masih ada. Sehingga bisa mencari catatan-catatannya,” imbuhnya.
Karena itu, ia didukung I Putu Supadma Rudana menginisiasi temu wicara budaya dengan Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai pembicaranya.
Kendati demikian, Nuarta meminta agar keberadaan museum itu juga diimbangi kesiapan dari sisi sumber daya manusia (SDM). Ini karena dunia permuseuman memiliki sejumlah standar yang ketat. “Sejauh ini di Bali yang representatif mungkin Museum Rudana,” ujar Nuarta.
Terkait dengan museum kebudayaan tersebut, Bupati Tabanan I Komang Gede Sanjaya, secara terpisah menyebutkan bahwa pihaknya sudah mengkonsepkannya sejak sepuluh tahun lalu. Ini ditandai dengan keberadaan Museum Sagung Wah.
Konsepnya adalah untuk mengenalkan Tabanan di masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang. “Bahwa Tabanan memiliki peradaban yang tinggi. Sudah kami siapkan seperti itu. Bahwa, akan terjadi seperti ini,” bebernya.
Mengenai artefak-artefak yang berkaitan dengan Tabanan, menurut Sanjaya setidaknya ada ratusan jumlahnya dan beraneka rupa wujudnya.
“Ada perhiasan. Gelang. Kami bicara dengan Pak Menteri dulu dan Pak Putu Supadma Rudana. Bagaimana nanti teknisnya,” pungkas Sanjaya. (c/kb)

















