Pohon Aren 20 Meter Tumbang Timpa Pelinggih di Taro

GIANYAR, Kilasbali.com – Setelah hujan ekstrem mereda dua hari, sebuah pura di tengah hutan Desa didapati dalam kondisi mengenaskan. Sebuah pohon aren setinggi sekitar 20 meter tumbang dan menimpa bangunan suci di Pura Kerta Sari, Desa adat Taro Kaja, Taro, Tegallalang. Musibah di pura yang lokasinya jauh dari pemukiman ini, baru di ketahui warga, Rabu (4/11) sore.
Dari pantauan, Kamis (5/11), musibah itu mengakibatkan bangunan pelinggih pangaruman mengalami kerusakan parah. Selain itu, tembok penyengker sepanjang kurang lebih tiga meter juga rusak akibat tertimpa batang pohon berukuran besar tersebut.
Tidak ada korban jiwa maupun korban dalam musibah tersebut, namun kerugian material diperkirakan mencapai ratusan juta. Penyebab tumbangnya pohon aren tersebut diduga karena kondisi tanah basah setelah diguyur hujan dan akar tak kuat menopang pohon yang diterjang angin kencang.
Mengingat bangunan yang terdampak merupakan tempat suci, masyarakat setempat melakukan penanganan secara sekala dan niskala. Pada Rabu sore masyarakat menggelar upacara Ngingsiran, Ngelinggihan Ring Pangaruman, serta Ngeseng Pelinggih.
I Wayan Warka mengatakan, rangkaian upacara tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari tata cara adat dan keagamaan setelah pelinggih pangaruman tertimpa pohon aren.
“Upacara ini dilaksanakan sebagai bagian dari tata cara adat dan keagamaan setelah pelinggih pangaruman tertimpa pohon aren. Masyarakat bersama prajuru adat melaksanakan prosesi tersebut agar penanganan tempat suci ini berjalan sesuai dresta dan ketentuan adat yang berlaku,” ujarnya.
Upacara tersebut dihadiri seluruh prajuru adat, Perbekel Desa Taro Kaja, serta masyarakat setempat. Prosesi ini sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap tempat suci yang mengalami kerusakan.
Sementara itu, Kelian Adat Desa Taro Kaja, Kertayasa, mengatakan pelaksanaan upacara merupakan langkah awal dalam penanganan bangunan suci yang terdampak.
“Melalui pelaksanaan upacara ini, kami bersama masyarakat menjalankan kewajiban secara adat dan agama. Selanjutnya, untuk penanganan fisik bangunan yang rusak akan dilakukan sesuai hasil kesepakatan dan ketentuan adat,” ungkapnya.
Masyarakat berharap perbaikan pelinggih pangaruman dan tembok penyengker dapat segera dilakukan agar tempat persembahyangan tersebut kembali tertata dan dapat difungsikan sebagaimana mestinya.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan terhadap pohon-pohon berukuran besar yang berada di sekitar bangunan suci, permukiman, maupun fasilitas umum, meskipun kondisi cuaca terlihat cerah. (Ina/kb)

















