Kampung Nelayan Merah Putih Seraya Timur

DENPASAR, Kilasbali.com – Kampung Nelayan Merah Putih di Desa Seraya Timur, Karangasem, telah sukses menjadi lokasi pertama pengembangan program tersebut di Bali sejak 2025.
Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali kini menyiapkan perluasan kawasan serupa di sejumlah wilayah, dengan target 26 kampung pada 2027 dan 23 kampung pada 2028.
Pengembangan ini merupakan bagian dari percepatan program nasional yang diinstruksikan langsung Presiden Prabowo Subianto.
Di Bali, Seraya Timur menjadi kawasan yang lebih dahulu dikembangkan, sedangkan sejumlah lokasi lainnya masih dalam tahap usulan dan verifikasi.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali Putu Sumardiana mengatakan, tujuan awal pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih adalah menyatukan para nelayan beserta aktivitas usaha perikanan dalam satu kawasan.
“Tujuan awal niki kan untuk mempersatukan nelayannya,” kata Sumardiana di Denpasar, Selasa (3/11).
Menurutnya, konsep ideal Kampung Nelayan Merah Putih tidak hanya menyediakan fasilitas untuk kegiatan penangkapan ikan.
Kawasan tersebut juga diharapkan memiliki sarana pengolahan hasil tangkapan, kuliner, budidaya perikanan, hingga pariwisata.
Namun, pengembangan di Seraya Timur saat ini masih difokuskan pada kegiatan penangkapan dan pengolahan ikan.
“Nanti ada idealnya, kalau cita-citanya dari pusat ada yang penangkapannya di sana jadi satu. Terus ada pengolahannya juga, kulinernya di situ. Terus ada budidayanya,” ujarnya.
Kampung Nelayan Merah Putih Seraya Timur dibangun dengan dukungan anggaran APBN 2026 senilai Rp 22 miliar.
Kawasan seluas sekitar satu hektare tersebut diarahkan menjadi sentra pengelolaan ikan tongkol dari Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 713.
Pengembangannya menyasar 15 Kelompok Usaha Bersama (KUB) yang menaungi sekitar 350 nelayan. Pengelolaan kawasan dilakukan melalui koperasi yang terintegrasi dengan Koperasi Desa Merah Putih Seraya Timur.
Sumardiana menjelaskan, fasilitas dalam kawasan itu dirancang untuk menghubungkan kegiatan penangkapan ikan, penanganan hasil tangkapan, pengolahan, hingga pemasaran.
Dengan sistem tersebut, nelayan diharapkan tidak perlu mencari fasilitas pendukung ke lokasi berbeda.
“Tujuannya mengintegrasikan antara penangkapan ikan, nelayan, pengolah ikan, pemasar dalam suatu lokasi, gitu kan. Termasuk juga ada bengkel, bengkel kapal. Diharapkan jadi nelayannya itu enggak pusing ke mana-mana, jadi sekomplek,” jelasnya. (Jus/kb)

















