Parade Ogoh-ogoh Festival Singasana III Diusulkan Dibagi Lima Zona

TABANAN, Kilasbali.com – Parade ogoh-ogoh Festival Singasana yang keempat diharapkan bisa dilaksanakan ke dalam lima zona.
Pembagian zona itu dilakukan untuk meningkatkan kualitas kompetisi pada pelaksanaan festival keempat di 2027 mendatang.
Usulan ini menjadi satu masukan yang muncul di Forum Grup Diskusi atau FGD yang digelar Dinas Kebudayaan (Disbud) Tabanan di Gedung Kesenian I Ketut Marya pada Selasa (31/3).
Diskusi itu melibatkan para perangkat desa dan berbagai pemangku kepentingan. Serta yang tidak kalah pentingnya, perwakilan yowana atau pemuda yang penggerak utama festival itu.
Kepala Disbud Tabanan, I Made Subagia, menjelaskan bahwa pihaknya sengaja mengundang perwakilan yowana untuk memperoleh masukan dan evaluasi terkait festival di tahun ini.
Ia menyebut, ada berbagai macam masukan dan usulan bersifat teknis yang muncul dalam diskusi tersebut dengan harapan pelaksanaan festival berikutnya jauh lebih baik.
“FGD ini untuk mengeveluasi Festival Singasana III. Terutama terkait pelaksana parade dan lomba ogoh-ogoh,” ujar Subagia.
Ia mengakui bahwa pembagian lima zona, yang masing-masing mencakup dua kecamatan, menjadi satu poin evaluasi yang cukup penting untuk dipertimbangkan.
Dalam skema ini, setiap zona nantinya akan mengirimkan tiga karya ogoh-ogoh terbaik untuk diadu di tingkat kabupaten.
“Kami banyak mendapatkan masukan dari para yowana untuk kegiatan berikutnya,” sebut Subagia.
Selain soal zonasi, kualitas penjurian juga menjadi sorotan utama agar penilaian berjalan lebih objektif.
Para yowana berharap tim juri memiliki kompetensi khusus sebagai budayawan, pelukis, hingga pematung, serta mengusulkan sistem pertukaran juri antarwilayah agar tetap adil.
“Ternyata banyak tokoh Tabanan yang memiliki kompetensi berkiprah di perlombaan ogoh-ogoh. Kenapa mereka tidak kita ajak di Tabanan,” ungkapnya.
Tidak hanya itu, ia juga mengungkapkan bahwa dalam evaluasi itu juga muncul usulan agar ada sistem penilaian dengan melakukan switch juri. “Usulannya juri nanti di switch,” jelasnya.
Untuk aspek kenyamanan publik, muncul pula gagasan untuk memecah konsentrasi massa dengan menyediakan layanan nonton bareng melalui videotron di lapangan Dangin Carik.
Langkah ini diusulkan agar penonton tidak hanya bertumpu di satu titik lokasi parade utama di pusat kota.
“Bisa saja mereka nonton di videotron lapangan Dangin Carik tidak harus ke lokasi. Kami akan koordinasikan dengan Kominfo,” imbuhnya.
Terkait pendanaan, Subagia memberikan apresiasi tinggi terhadap kemandirian para yowana yang mulai menggali dana secara swadaya sejak dini.
Para pemuda berkomitmen menghindari praktik pungutan paksa demi menjaga nilai kesucian atau taksu dari karya ogoh-ogoh yang mereka buat.
“Tentu pemerintah hadir membantu. Ini patut diapresiasi, karena menurut mereka kalau sampai malak, taksu ogoh-ogoh yang dibuat akan berkurang, jadi mereka sepakat untuk menggali dana lebih awal,” jelasnya.
Seluruh masukan dan hasil kajian ini rencananya akan dibahas kembali dalam pertemuan lanjutan pada akhir 2026.
Nantinya, hasil kajian ini akan dimantapkan lagi sebagai bahan perencanaan dan penyusunan anggaran kegiatan serupa di 2027.
“Ini akan dibahas dan ditelaah, akhir tahun akah diundang lagi untuk FGD,” pungkasnya. (c/kb)

















