Digarap Selama 6 Bulan, Ogoh-ogoh Baturiti Juara Utama Festival Singasana III 2026

TABANAN, Kilasbali.com – Ogoh-ogoh perwakilan Kecamatan Baturiti dari Sekaa Teruna (ST) Dharma Bhakti, Banjar Tapak Karang, Desa Apuan, terpilih menjadi juara utama dalam Festival Singasana III 2026.
Karya seni ogoh-ogoh berjudul Adhikara Grahana itu meraih nilai tertinggi yakni 265 saat diumumkan di panggung terbuka Garuda Wisnu Singasana, Taman Bung Karno, yang menjadi arena festival pada Sabtu (14/3).
Sementara itu, juara kedua ditempati ogoh-ogoh berjudul Ngerejeg Bhoma Palatra karya ST Tri Wikrama dari Banjar Kamasan, Desa Dajan Peken, yang menjadi perwakilan Kecamatan Tabanan dengan nilai 261,8.
Sedangkan untuk juara ketiga ditempati ogoh-ogoh Kunti Seraya karya ST Permata dari Banjar Tanah Bang, Desa Banjar Anyar, perwakilan Kecamatan Kediri dengan nilai 259,7.
Menyandang gelar juara utama di Festival Singasana III 2026 tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi ST Dharma Bhakti, Banjar Tapak Karang.
Khususnya lagi bagi I Made Widiartha yang menjadi undagi atau pembuat utama ogoh-ogoh yang mengisahkan kelahiran Rahwana.
Apalagi ia menyebut, ogoh-ogoh itu dikerjakan mulai September 2025 atau sekitar enam bulan dengan biaya mencapai Rp 70 jutaan.
Belum lagi saat memboyong ogoh-ogoh itu dari banjar mereka menuju Taman Bung Karno penuh dengan tantangan dan hambatan.
Selain harus menyusuri jalanan yang berlika-liku, para pemuda ST Dharma Dhakti dari Banjar Tapak Karang itu harus menemui hambatan kabel yang melintang hingga dahan pepohonan.
Tidak banyak yang diungkapkan Widiartha saat mendengar ogoh-ogoh garapan bersama teman-temannya di banjarnya itu lolos sebagai juara utama selain bersyukur. “Kami bersyukur. Perjuangan yang tidak sia-sia,” katanya.
Bahkan di awal, ia tidak sempat terpikirkan ogoh-ogohnya akan lolos tiga besar tingkat kabupaten. Terlebih menjadi juara utamanya.
Sebab, ia menilai karya ogoh-ogoh dari perwakilan kecamatan lainnya juga tidak kalah bagus dari sisi kreativitas pembuatannya.
Sementara itu, satu dari tiga juri lomba, I Gede Arum Gunawan, menjelaskan penilaian di tingkat kabupaten menitikberatkan aspek harmonisasi aksesori, anatomi, hingga pewarnaan.
Ia juga menekankan, ogoh-ogoh sebagai karya seni tiga dimensi juga harus atraktif, konstruksi yang kokoh, dan ide cerita yang menarik.
Karena itu, ia mendorong generasi muda untuk lebih berani menggali cerita atau kisah tradisional Bali lainnya. “Harus bisa melihat ogoh-ogoh dari berbagai sisi,” tegasnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Tabanan, I Made Subagia, menyatakan kebanggaannya atas kreativitas undagi lokal.
Ia juga akan melakukan evaluasi penuh untuk penyelenggaraan festival dan lomba di tahun depan.
Menurutnya, evaluasi itu penting lantaran ada dua kecamatan yang tingkat partisipasinya kurang serta mekanisme penyediaan fasilitas bagi para peserta festival.
“Ini akan kami evaluasi betul-betul. Apa nanti penilaian dengan zona atau yang lainnya tentu kami akan libatkan pemuda sebagai pelaku utamanya,” pungkas Subagia. (c/kb)

















