
DENPASAR, Kilasbali.com — Kabar gembira berhembus dari sektor peternakan.
Pasalnya, Menteri Pertanian Republik Indonesia (RI) Andi Amran Sulaiman tiba-tiba mengeluarkan kebijakan untuk stop (hentikan) impor daging, khususnya daging Babi saat pelaksanaan kegiatan HIPMI di Makassar, Sulawesi Selatan, belum lama ini.
Tak pelak, hal itu bakal membuka peluang besar meningkatkan produksi daging babi bagi peternak di Pulau Dewata (Propinsi Bali).
Usut punya usut, kebijakan Menteri Amran tersebut, tidak lepas dari peran Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Provinsi Bali yang dinahkodai oleh Agung Bagus Pratiksa Linggih yang notebene saat ini jabat Ketua Komisi II DPRD Bali.
Tak puas sampai disitu, Politisi Partai Golongan Karya (Golkar) asal Desa Tajun, Kecamatan Kubutambahan-Buleleng juga meminta ‘jatah kue’ (anggaran) kepada Menteri Amran untuk protect (melindungi) nasib para peternak babi di Bali. Hasilnya, Menteri Amran menggelontorkan anggaran sebesar Rp 10 miliar dalam bentuk Vaksin African Swine Fever (ASF).
“Imbas impor daging babi sangat memengaruhi nasib para pengusaha lokal di Bali, dimana harga daging babi lokal alami penurunan cukup signifikan beberapa tahun belakangan ini. Melihat kondisi itu, kami (HIPMI Bali) berupaya perjuangkan, alhasil mendapatkan respon positif. Tidak lupa kami sampaikan terima kasih kepada Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman yang sudah mengeluarkan kebijakan sifatnya mendadak hentikan impor daging babi. Tentunya hal ini bentuk perhatian dan kepedulian Menteri Amran akan nasib para pelaku usaha (peternak babi), kedepannya peternak lebih memacu produksi. Sinyal ini akan berdampak positif tingkatkan kesejahteraan para peternak babi lokal di Bali,” terang Agung Bagus ketika dihubungi melalui telepon seluler, Kamis (19/2) sore.
Lebih spesifik soal Vaksin ASF sebut Agung Bagus, pihaknya berharap melalui skema Vaksin ASF tersebut nantinya mampu melindungi ternak babi dari serangan penyakit, dimana hal itu berpotensi positif meningkatkan hasil produksi daging babi peternak lokal di Bali. Kemudian dari sisi teknis, suplai Vaksin ASF kepada peternak babi akan melibatkan peran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali.
“Nah, melindungi dan meningkatkan hasil produksi daging babi peternak di Bali, kita kan diberikan anggaran Rp 10 miliar dalam bentuk Vaksin ASF dari Kementerian Pertanian. Ya, anggaran Vaksin ASF itu langsung turun di tahun 2026 ini. Jadi, sesegera mungkin kita bahas bersama Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Bali. Kan mesti by data berapa jumlah para pelaku usaha (peternak babi) yang ada di sembilan (9) Kabupaten/Kota se-Bali,” pungkasnya. (Ard/kb)

















