12 Brand Inkubasi Kementrian Ekraf Unjuk Gigi di BFT

GIANYAR, Kilasbali.com – Hari ketiga, hajatan Bali Fashion Trend (BFT) 2025 terus menjadi magnet penggelut dunia mode. Bahkan menjadi sorotan industri mode nasional dengan menghadirkan panggung khusus bagi brand fesyen lokal Indonesia.
Sabtu (21/12), giliran Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif ambil bagian dan berkolaborasi. Dengan menampilkan 12 jenama hasil Inkubasi Fesyen 2025 dari Provinsi Bali dan Wilayah Jabodetabek.
Dimana semuanya telah menjalani proses pelatihan dan pendampingan intensif dan berhasil lolos kurasi untuk tampil di runway fashion show Bali Fashion Trend 2025 ini.
Ke-12 brand tersebut adalah: Ceu Kokom Ecoprint, Ghaea Home, Da’poza, Opie Ovie, Suwari Loka, Srihanna, Guts Etnik, Milioki, Etiesta, Mierto, Amod Bali, Batik Marunda, dan Deden Siswanto for MYMD. Mereka hadir sebagai representasi kekuatan kreatif desainer lokal yang membawa karakter budaya Nusantara dalam pendekatan desain kontemporer.
Romi Astuti, Direktur Fesyen Kementrian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif RI, mengatakan, program Inkubasi Fesyen 2025 ini dirancang untuk memperkuat kapasitas brand lokal melalui pendampingan strategi bisnis, pengembangan konsep koleksi, teknik penyajian mode, hingga storytelling brand.
Selama proses pelatihan dan pendampingan, para peserta mendapatkan arahan langsung dari mentor, desainer profesional, pelaku industri, dan akademisi sebelum akhirnya diseleksi menjadi 12 jenama yang siap menampilkan karya terbaiknya.
Di atas runway Bali Fashion Trend 2025, setiap jenama membawa identitas unik: mulai dari eksplorasi material tekstil lokal, pemahaman trend fashion terkini, persiapan fashion show, photoshoot, pengembangan desain, hingga penggunaan AI dalam branding.
Kolaborasi ini menjadi wujud komitmen Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif dalam mendorong jenama lokal agar mampu berkembang secara kreatif dan kompetitif di industri fesyen tanah air dan pasar global.
“Melalui program Inkubasi Fesyen 2025 ini, kami ingin memfasilitasi brand lokal agar dapat naik kelas melalui penguatan desain, konsep bisnis, serta daya saing industrinya,” ujarnya.
Sebagai platform mode tahunan dengan visi mengangkat budaya dan kreativitas lokal, Bali Fashion Trend 2025 berharap penampilan 12 brand Inkubasi Fesyen 2025 ini dapat menjadi langkah awal bagi para pelaku mode untuk menjangkau pasar yang lebih luas, memperkuat jaringan industri, serta memperkuat karakter brand melalui dukungan dan eksposur media.
“Kami percaya bahwa jenama yang tampil hari ini membawa potensi besar bagi masa depan industri kreatif Indonesia,” terangnya.
Lanjutnya, program Inkubasi Fesyen 2025 merupakan Program pendampingan Inkubasi Fesyen 2025 oleh Kementerian Ekonomi Kreatif/Badan Ekonomi Kreatif merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem mode nasional.
Selama pelatihan dan pendampingan, para peserta mendapatkan pelatihan intensif terkait desain kreatif, analisis pasar, produksi, branding digital, hingga persiapan runway showcase. Hasilnya, hadir 12 brand terpilih yang siap membawa energi baru bagi fesyen Indonesia di Bali Fashion Trend 2025.
Dengan tampilnya koleksi dari Ceu Kokom Ecoprint, Ghaea Home, Da’poza, Opie Ovie, Suwari Loka, Srihanna, Guts Etnik, Milioki, Etiesta, Mierto, Amod Bali, Batik Marunda, dan Deden Siswanto for MYMD, acara ini menjadi bukti nyata bahwa industri kreatif Indonesia memiliki talenta dan kualitas yang layak bersaing di panggung dunia. (Ina/kb)

















