Bali Jadi Provinsi Pertama Terapkan Sistem Pembangkit Virtual

DENPASAR, Kilasbali.com – Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo menyampaikan, Bali akan menjadi provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem pembangkit virtual berbasis energi terbarukan secara terintegrasi.
“Virtual Power Plant (VPP) berbasis smart grid mulai dijalankan di Bali pada Agustus 2025 dengan kapasitas awal 100 MWp,” katanya di Denpasar belum lama ini.
Disebutkan, saat ini total kapasitas pembangkit di Bali mencapai 1.249 MW, ditambah interkoneksi Jawa–Bali sebesar 270 MW, sehingga total kapasitas daya menjadi 1.519 MW.
Namun, dengan proyeksi beban puncak yang akan mencapai 1.400 MW dan pada awal 2025 pertumbuhan beban tahunan lebih dari 10 persen, penguatan sistem menjadi sangat penting.
Sejumlah langkah-langkah konkret disiapkan PLN antara lain penguatan sistem transmisi internal dari utara–selatan dan timur–barat agar menjadi sistem terintegrasi penuh, serta perluasan pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap serta mengembangkan proyek strategis seperti PLTMG/GU, terminal LNG Offshore (FSRU) Bali, PLTS Bali Timur, Barat dan Bali III, SUTET 500 KV Gilimanuk–Antosari, serta Smart PV Rooftop.
“Bali akan menjadi proyek percontohan nasional dalam pengembangan sistem kelistrikan berbasis energi bersih dan kemandirian energi. Untuk itu, PLN telah menyiapkan skema peningkatan keandalan subsistem kelistrikan Bali yang mencakup berbagai langkah konkret,” katanya.
Dia menambahkan PLN akan mengimplementasikan Virtual Power Plant (VPP) berbasis smart grid di Bali mulai Agustus 2025 dengan kapasitas awal 100 MWp.
Konsep ini akan menjadikan Bali sebagai provinsi pertama di Indonesia yang menerapkan sistem pembangkit virtual berbasis energi terbarukan secara terintegrasi.
“PLN mendukung penuh visi Bali Mandiri Energi. Kami menyiapkan sistem kelistrikan Bali yang tidak hanya andal, tetapi juga bersih dan modern. Ini akan menjadi model pengembangan energi masa depan Indonesia, dan Bali akan menjadi provinsi pertama yang menerapkan Virtual Power Plant berbasis smart grid,” ungkap Darmawan.
Dia berharap dengan penguatan ini, sistem kelistrikan Bali yang semula terpusat dan rentan akan menjadi lebih tangguh, tersebar, dan adaptif.
Pembangkit tidak lagi hanya terpusat di selatan, tetapi tersebar di seluruh wilayah Bali, mendukung pemerataan pembangunan dan akses energi. (Jus/kb)

















