
TABANAN, Kilasbali.com – Ketua Majelis Desa Adat (MDA) yang juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tabanan, I Wayan Tontra, meninggal dunia pada Senin malam (7/10).
Tontra meninggal dunia pada usia 71 tahun di Rumah Sakit Umum Tabanan sekitar pukul 23.00 Wita setelah berjuang melawan kanker sumsum tulang belakang dan komplikasi penyakit lainnya.
Rencananya, pihak keluarga akan melaksanakan upacara pengabenan pada Minggu (13/10). Ini seperti yang diungkapkan istri mendiang, I GA Made Murniati (68).
Saat dijumpai di rumah duka, Banjar Kelating Dangin Jalan, Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Murniati menceritakan bahwa mendiang sudah beberapa kali menjalani rawat inap di rumah sakit sejak Januari 2024 lalu.
“Hampir tiap bulan Bapak (mendiang) opname di rumah sakit,” tutur Murniati.
Namun, setelah menjalani rawat inap dan sedikit pulih, mendiang sudah beraktivitas lagi. Maklum saja, mendiang selama ini memang dikenal aktif dalam dunia organisasi terutama di bidang adat dan budaya.
“Sembuh sedikit sudah aktivitas lagi. Saya sering minta agar istirahat di rumah. Cuma Bapak (mendiang) senang beraktivitas,” ungkapnya.
Bahkan pada 2022 lalu, sambung Murniati, dua hari sembuh dari stroke mendiang sudah keluar beraktivitas lagi.
“Terakhir sudah kondisi sakit pakai tongkat tetap ikut tirta yatra,” imbuh Murniati yang juga Ketua Paiketan Krama Istri (Pakis) Tabanan.
Mendiang kembali mendapatkan perawatan di rumah sakit saat Galungan belum lama ini. Sejak itu, mendiang menjalani rawat inap selama 13 hari hingga akhirnya meninggal dunia.
Murniati menceritakan, sekitar satu bulan lalu, mendiang sempat menunjukkan gelagat aneh. Mendiang tiba-tiba ingin mencetak semua foto aktivitasnya selama ini yang tersimpan pada ponselnya untuk dikumpulkan ke dalam satu album.
“(Foto-foto aktivitas mendiang) sejak zaman Bupati Eka Wiryastuti sampai Bupati Sanjaya. Termasuk aktivitas lainnya. Katanya, biar bisa dilihat anak cucunya nanti kalau sudah meninggal,” tuturnya.
Tidak hanya pihak keluarga, kepergian Tontra juga dirasakan sebagai duka bagi beberapa tokoh masyarakat dan adat lainnya. Bendesa Adat Kelating, I Dewa Made Maharjana, misalnya yang mengaku sangat kehilangan sosok yang getol melestarikan adat, agama, dan budaya tersebut.
“Beliau sangat baik dan bijaksana dalam memberikan pemahaman tentang adat dan menjaga keharmonisan antarumat. Dedikasi dan pengayoman beliau bagi masyarakat sangat besar,” ujar Dewa Made Maharjana. (c/kb).

















