Kreativitas Ogoh-ogoh, Yowana Gianyar Pantang Minta-minta

GIANYAR, Kilasbali.com – Komitmen Bupati Gianyar, I Made Mahayastra yang tidak ingin mengusik kemandirian kreativitas yowana dalam pembuatan ogoh-agoh mendapat apresiasi sejumlah kalangan.
Bahkan, Manggala Utama Pasikian Yowana Kabupaten Gianyar, Pande Made Widia, menilai bupati secara tidak langsung, telah mendidik generasi dalam kemandirian berkreativitas. Justru sebaliknya, dana bantuan ogoh-ogoh dinilai akan memanjakan generasi muda.
Disebutkan, di Gianyar selama ini, tidak adalah istilah yowana yang minta-minta ke lembaga pemerintah, terutamanya dalam pembuatan ogoh-ogoh. Meski demikian tidak menampik, ada punia yang diterima sebagai bentuk dukungan kepada yowana.
“Kami memantangi minta-minta dalam ajang kreativitas. Kami yowana Gianyar bertanggung jawab, semua dilakukan dengan kerja sama dan gotong royong, deri segi dana, petedunan dalam pembuatan ogoh-ogoh,” ungkap Pande.
Menurut Pande Widia, tidak adanya dana dari pemerintah terkait pembuatan ogoh-ogoh bukan merupakan permasalahan. Mengingat dari tahun-tahun sebelumnya juga tidak ada bantuan apa pun dari pemerintah, tapi ogoh-ogoh juga masih bisa dibuat.
“Dari dulu tidak ada dana dari pemerintah daerah, tapi sekaa teruna masih bisa membuat ogoh-ogoh,” terangnya.
Kendati demikian pihaknya bersyukur tentang dikeluarkanya SE Gubernur. Sekaa teruna-teruni di Kabupaten Gianyar sejatinya menyambut baik keluarnya SE MDA Nomor: 009/SE/MDA-Prov Bali/XII/2021 tentang Pembuatan dan Pawai Ogoh-Ogoh Menyambut Hari Suci Nyepi Tahun Baru Çaka 1944.
“Terlebih SE diperkuat dengan Surat Edaran Gubernur Provinsi Bali dan Surat Edaran Kabupaten Gianyar, ini memberikan angin segar kepada yowana di Kabupaten Gianyar,” terangnya.
Atas SE tersebut, Pasikian Yowona Gianyar sejatinya kini tengah mempersiapkan perlombaan ogoh-ogoh se-Kabupaten Gianyar, sehingga dapat mengapresiasi kreativitas seni adat dan budaya mulai dari pembuatan ogoh-ogoh di Kabupaten Gianyar.
Untuk memastikan itu, pihaknya akan bersurat masing – masing desa yang telah menyiapkannya mulai hari ini. Sedangkan untuk sistem penilaianya juri akan langsung ke lokasi pembuatan ogoh-ogoh di masing-masing desa adat dengan menggunakan dua katagori lomba.
Katagori pertama, lomba diawali di.tingkat banjar dengan langsung mewakili desa adat. Pemenang di tingkat adat akan maju pada tingkat kecamatan, selanjut akan di nilai dan mewakili kecamatan ke kabupaten.
Sedangkan katagori kedua merupakan lomba kriteria favorit, sekaa teruna bebas mengirimkan foto dengan pemenang mendapatkan like atau jempol terbanyak di media sosial instagram.
Memastikan lomba berjalan tanpa tekanan dan interpensi, kriteria penilaian akan diberikann kisi-kisi bertema adat, tradisi, dan budaya tanpa unsur sara.
Walau akan dilombakan, pihaknya juga sangat berharap arak-arakan ogoh-ogoh hanya di wewidangan desa adat.
“Sesuai konsep desa mawacara budaya antar desa adat berbeda, supaya tidak terjadi hal yang tidak di inginkan mending diadakan di desa adat itu sendiri karena ini adalah tanggung jawab dssa adat,” terangnya.
Perlombaan ini diharapkan dapat menjadi wadah dari kreativitas seni, berbagai inovasi dan memupuk rasa saling asah asih asuh di antara sekaa teruna di era global saat ini.
Mengingat sekaa teruna sebagai garda terdepan dalam ajegnya seni, adat dan budaya Bali di masing-masing banjar maupun desa adat. (ina/kb)

















