Berwisata di Masa Pandemi, Tetap Utamakan Disiplin Prokes

MANGGARAI BARAT, Kilasbali.com – Berwisata di tengah masa pandemi Covid -19 memang sedikit berbeda dari biasanya. Hal inilah yang dialami Andika seorang pemuda yang melakukan perjalanan wisata di masa pandemi dari Kota Denpasar menuju Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur.
Sebelum berangkat, Andika harus mengikuti test PCR untuk memastikan dirinya sehat dan bebas Covid-19. Begitu juga saat akan kembali ke kota asal, ia pun harus mengikuti tes PCR lagi untuk dinyatakan layak terbang lewat pesawat udara.
Selain itu, ia pun harus melengkapi telepin genggamnya dengan aplikasi Pedulilindungi dan tentu saja tetap menerapkan protokol kesehatan selama perjalanan dan kembali dari berwisata.
“Untuk memastikan diri saya sehat dan layak terbang saya tidak keberatan mengikuti uji PCR. Dan hasilnya saya bisa enjoy berwisata di Labuan Bajo menikmati keindahan alam dan melihat Komodo,” ucapnya.
Sementara itu, Wakil Bupati Manggarai Barat dr. Yulianus Weng, M. Kes menyampaikan pasca ditetapkan menjadi daerah wisata super premium oleh pemerintah pusat, kawasan Labuan Bajo terus berbenah.
Dalam penanganan pandemi Covid-19 menurutnya dari 21 ribu penduduk cakupan vaksin sudah 120 persen.Pelaku pariwisata sudah vaksin 2 kali untuk memberi rasa nyaman kepada wisatawan.
“Kasus Covid-19 paling tinggi 4 orang per hari. Manggarai Barat adalah pecahan dari Manggarai Induk, ada Timur dan Utara.
Pelancong bisa kunjungi Pulau Padar, Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Kelor,” sebutnya.
Yulianus Weng menjelaskan Pemkab Manggarai Barat terus berbenah di berbagai bidang, seperti masalah keamanan, kenyamanan, keselamatan, dan kesehatan bagi wisatawan yang datang.
“Di bidang kesehatan kita ingin destinasi kita minimal 70-80 persen vaksin tercapai. Sekarang 66,7 persen. Saya yakin 80-90 persen akhir tahun bisa tercapai,” ucapnya.
Ia menambahkan dari segi keamanan, untuk Bandara Komodo sudah dipasang alat pendeteksi gempa di Puncak Waringin, serta sudah dibuatkan jalur evakuasi.
“Kemudian hotel-hotel juga diharapkan sudah memiliki sertifikat CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability).Saat ini baru ada 4 dan sedang dinilai oleh Kemenparekraf untuk mendapat tambahan lagi terkait hotel yang bersertifikat CHSE,” imbuhnya.
Dan yang paling penting menurutnya adalah menjaga kebersihan kota, serta masyarakat bersikap sopan santun kepada wisatawan yang datang.
“Kita sekarang bekerja sama dengan Kepolisian, TNI, Forum Komunikasi Umat Beragama supaya daerah kita tetap stabil. Termasuk juga sekarang vaksin itu melibatkan tokoh-tokoh,” urainya.
Ia menambahkan, Pendapatan Asli Daerah (PAD) bersumber dari pariwisata sebagai andalan namun terdampak Covid. Kini sudah mulai ada geliat. Terkait pembangunan untuk menyambut G-20 sebagai side event ada 3 hotel bintang 5 dibangun, dan tahun depan akan dibangun 5 lagi hotel bintang 5.
“Tahun ini harusnya sudah jadi bandara internasional, tapi terjadi Covid sehingga tahun 2022 dilanjutkan pembangunannya,” katanya.
Di sisi lain, Yono salah seorang pemandu lokal di Kawasan Taman Nasional Komodo mengatakan demi keamanan dan keselamatan pengunjung, sebelum melakukan tracking di Taman Nasional Komodo, selain menerapkan protokol kesehatan ada beberapa aturan yang harus diikuti oleh pengunjung diantaranya jangan sampai terpisah dari rombongan, dilarang merokok selama perjalanan, tidak membuang sampah sembarangan, tidak membuat kebisingan selama perjalanan, dan tidak boleh mengambil apa pun dalam kawasan Taman Nasional Komodo.
Yono menambahkan, Komodo di Taman Nasional ini hidup liar semua dan tidak ada penangkaran. Untuk makanan, reptil raksasa ini biasanya berburu binatang liar yang hidup di sekitar Taman Nasional Komodo seperti babi hutan dan rusa. Komodo biasanya berburu mangsanya dengan cara mengamati binatang liar ini saat mencari air di sekitar Taman Nasional, sebelum akhirnya dimangsa oleh Komodo.
Selain berburu sendiri, Yono mengatakan Komodo merupakan hewan kanibal. Komodo juga memangsa anaknya sendiri.
“Makanya anak Komodo setelah menetas mereka lari ke atas pohon untuk menghindar,” imbuhnya.
Dari data yang dihimpun Dirjen Konservasi Alam dan Ekositem Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan disebutkan populasi Komodo saat ini berkisar 3.000 ekor lebih yang tersebar di Pulau Komodo dan Pulau Rinca.(sgt/kb)

















