Manfaatkan HP, Siswa Tunarungu Sabet Juara Nasional

TABANAN, Kilasbali.com – Para siswa disabilitas tunarungu di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Tabanan memanfaatkan perangkat telepon genggam (HP) untuk memodernisasi pembelajaran tata busana hingga sukses menyabet gelar Juara I Tingkat Nasional.
Terobosan digital dalam proses pelatihan kriya dan desain busana tersebut terbukti efektif mengasah keahlian, kreativitas, serta daya saing para murid hingga mampu menorehkan deretan prestasi membanggakan.
Pemanfaatan teknologi gawai di dalam kelas vokasi tersebut difungsikan sebagai media pembelajaran interaktif bagi para siswa jenjang SMP kelas IX dan SMA.
Dengan pendampingan guru pengampu, para siswa tunarungu mengeksplorasi beragam fitur, tren pakaian kekinian, hingga teknik perancangan desain secara mandiri melalui HP sebelum menerapkannya dalam praktik pembuatan kerajinan tangan dan busana.
Kepala SLBN 1 Tabanan, Nyoman Meiarta Sedana, membeberkan bahwa penggunaan gawai secara bijak menjadi kunci transformasi pembelajaran vokasional di sekolahnya agar relevan dengan perkembangan zaman.
“Ini dilakukan supaya pembelajaran lebih modern, ada fitur – fitur yang bisa dipelajari dan dipahami khususnya dalam desain tata busana,” kata Kepala SLBN 1 Tabanan Nyoman Meiarta Sedana, Jumat (6/11).
Sentuhan metode pembelajaran modern berorientasi keterampilan tersebut membuahkan hasil manis pada panggung kompetisi.
Pada 2025, siswa SLBN 1 Tabanan berhasil menyabet Juara I tingkat Provinsi Bali sekaligus Juara I Tingkat Nasional dalam ajang lomba merangkai bunga.
Tren positif tersebut berlanjut pada tahun 2026 dengan torehan Juara I dan Juara II tingkat Provinsi Bali untuk kategori yang sama.
Selain mengukir prestasi kompetisi, pembekalan tata busana di SLBN 1 Tabanan juga menghasilkan beraneka produk kriya handmade.
Produk yang dibuat meliputi tas berbahan tikar daun pandan, tote bag, ikat rambut, kemeja, jaket, blazer, busana berbahan kain endek, hingga apron.
Meiarta menjelaskan, seluruh karya tersebut lahir dari tangan dingin para murid yang menekuni bidang keterampilan khusus di luar jam pelajaran akademik.
“Anak-anak tidak hanya mendapatkan pelajaran akademik, tetapi juga dibekali keterampilan melalui kegiatan ekstrakurikuler. Salah satunya tata busana yang menghasilkan berbagai produk kerajinan tangan. Seluruhnya dibuat secara handmade oleh siswa,” tegasnya.
Berbekal kreativitas yang terus diasah, produk kerajinan siswa bernilai Rp 10.000 hingga Rp 100.000 tersebut tidak hanya dipajang di pameran sekolah, tetapi telah menembus pusat oleh-oleh The Keranjang Bali dan Big Gallery di Kuta. Bahkan, tote bag dan apron motif barong buatan siswa tunarungu ini rutin dipesan oleh barista di Jakarta.
“Pesanan tersebut berkembang melalui promosi dari mulut ke mulut. Yang aproan kita sudah punya langganan tetap dari barista di Jakarta,” tutur Sedana.
Pihak sekolah juga mengembangkan lini kriya baru sejak Oktober 2026 berupa aksesori gantungan kunci, tas, dan gantungan HP.
“Aksesori ini seperti gantungan kunci, Hp dan tas yang dikemas kekinian,” katanya.
Meski sempat menghadapi tantangan saat menawarkan produk ke pusat oleh-oleh Krisna yang belum diterima, sekolah terus berbenah merancang kemasan yang lebih menarik.
Meiarta menekankan, integrasi pembelajaran teknologi dan keahlian vokasi ini semata-mata ditujukan demi membentuk fondasi kemandirian hidup para siswa tunarungu.
“Produk siswa sempat ditawarkan ke Krisna, namun belum diterima untuk dipasarkan. Mungkin kita akan kemas nanti supaya lebih kekinian,” katanya.
Pihaknya ingin membekali para murid dengan kreativitas dan keterampilan yang nantinya bisa digunakan untuk mencari jati diri serta menjadi bekal menjelajahi kehidupan. “Harapannya, mereka bisa mandiri dan memiliki kemampuan untuk berkarya,” pungkasnya. (c/kb)

















