Sanur Jadi Tuan Rumah Pekan Iklim Bali 2026

DENPASAR, Kilasbali.com – Pekan Iklim Bali kembali hadir sebagai momentum bersama bagi semua orang dalam mendorong gerakan aksi iklim daerah. Dengan lokasi utama di Kawasan Rendah Emisi (KRE) Sanur, Pekan Iklim Bali ingin mengajak peserta menggunakan jalur pejalan kaki, sepeda kayuh, hingga shuttle listrik Intaran untuk mencapai lokasi kegiatan.
Gubernur Bali, Wayan Koster menyatakan, Provinsi Bali dengan bangga menyelenggarakan Pekan Iklim Bali di Kawasan Rendah Emisi Sanur sebagai wadah bagi setiap daerah untuk berbagi pandangan dan strategi dalam merespon perubahan iklim.
“Daerah harus menjadi yang terdepan dalam mendorong aksi iklim dan harus didukung penuh oleh pemerintah pusat, mitra pembangunan, serta lembaga-lembaga internasional,” ujarnya dalam konferensi pers Pekan Iklim Bali 2026 yang diselenggarakan oleh Koalisi Bali Emisi Nol Bersih bersama Pemerintah Provinsi Bali di Gedung Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, pada Minggu (11/10).
Gubernur Bali juga menyebutkan enam titik lokasi yang dipilih sebagai Kawasan Rendah Emisi. “Ubud, Kepulauan Nusa Penida, Nusa Dua, Kuta, Sanur, serta Kawasan Cagar Budaya Gajah Mada Kota Denpasar merupakan kawasan yang ditetapkan merupakan kawasan yang ditetapkan. Kerthi Bhumi Satwika bukan sekadar nama kawasan melainkan perubahan arah pembangunan untuk memastikan keselarasan alam, budaya, dan manusia,” ujarnya.
Konferensi pers ini turut dihadiri oleh Direktur Eksekutif ViriyaENB, Suzanty Sitorus serta Country Director WRI Indonesia, Nirarta Samadhi sebagai Anggota Komite Pengarah Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, penyelenggara dari Pekan Iklim Bali 2026.
Mengangkat tema “Gerakan Iklim Daerah: Memaknai Transisi Berkeadilan untuk Semua”, kegiatan ini akan berlangsung pada 13–17 Oktober 2026. Selain diadakan di Kawasan Rendah Emisi Sanur, akan diadakan kunjungan langsung di berbagai daerah lainnya di Bali seperti Canggu, Kintamani, Wanagiri, Gianyar, dan Kusamba.
Sebagai bentuk aksi iklim daerah, KRE membutuhkan pelibatan masyarakat secara bermakna, baik dalam perencanaan, penerapan, hingga pengawasannya.
Anggota Komite Pengarah Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, Nirarta Samadhi, menyatakan, tantangan mobilitas di Bali merefleksikan karakteristik lanskap dan pola perpindahan warga di tiap kawasan. Sebagai sebuah strategi, penerapan Kawasan Rendah Emisi perlu dirumuskan bersama dengan perwakilan seluruh elemen masyarakat yang ada dalam kawasan tersebut.
“Kerja kolaboratif antara pemerintah kota, desa, desa adat, komunitas/kelompok masyarakat menjadi kunci keberhasilan penerapan perbaikan mobilitas di KRE Sanur,” katanya.
Selain pelibatan dan dukungan dari masyarakat, pemerintah daerah juga perlu aksi konkret dalam mewujudkan komitmen. Direktur Eksekutif ViriyaENB, Suzanty Sitorus, menyampaikan penetapan Kawasan Rendah Emisi di Bali menjadi wujud nyata dari komitmen Emisi Nol Bersih pada 2045.
“Hal ini merupakan contoh bahwa pemimpin daerah memiliki posisi strategis dalam memahami tantangan maupun solusi iklim dari daerahnya masing-masing,” tandasnya.
Ia menambahkan, melalui Koalisi Bali Emisi Nol Bersih, ViriyaENB mendukung Pemerintah Provinsi Bali dalam memperkuat kolaborasi lintas sektor dan antar pemangku kepentingan. Kami berharap Pekan Iklim Bali 2026 menjadi momentum untuk memperluas kerja sama dan mendorong lebih banyak inisiatif nyata menuju Bali Emisi Nol Bersih, dengan ekonomi yang tangguh dan berkeadilan.
Pekan Iklim Bali 2026 menghadirkan empat rangkaian kegiatan utama yang menghubungkan agenda kebijakan, kebutuhan pembiayaan, inovasi lokal, dan partisipasi publik, yaitu:
Forum Kebijakan Publik, ruang untuk mempertemukan pemerintah pusat dan daerah, mitra pembangunan, serta kelompok masyarakat untuk menerjemahkan komitmen dan kebijakan menuju rencana aksi yang nyata.
Forum Investasi Iklim, ruang dialog antara lembaga keuangan, pengelola dana lingkungan, wirausaha iklim, dan berbagai mitra untuk membahas peluang pendanaan serta pembiayaan bagi inisiatif iklim.
Jelajah Inovasi, ruang terbuka bagi masyarakat untuk berkunjung ke lokasi kerja para mitra pembangunan dan inovator, memperlihatkan bagaimana solusi iklim dapat tumbuh dari praktik dan kebutuhan masyarakat setempat.
Festival Rakyat, ruang bersama untuk untuk mengenal berbagai cerita, gagasan, dan solusi iklim melalui penayangan perdana lima film pendek dari program Lensa Iklim Bali, Bazaar Berkelanjutan, dan Lokakarya Interaktif.
Melalui rangkaian kegiatan ini, Pekan Iklim Bali 2026 diharapkan dapat memperluas pemahaman tentang aksi iklim – yang tidak terbatas pada pengurangan emisi maupun komitmen dan kebijakan – tetapi juga ketahanan masyarakat dalam menghadapi risiko bencana, pengelolaan sumber daya alam, keberlanjutan penghidupan, serta terciptanya ruang hidup yang lebih layak bagi generasi sekarang maupun mendatang.
Pekan Iklim Bali 2026 mengundang masyarakat, komunitas, pelaku usaha, akademisi, organisasi masyarakat sipil, dan seluruh pihak yang memiliki perhatian terhadap masa depan Bali untuk ikut terlibat dalam rangkaian kegiatan. (Jus/kb)

















