Pemkab Tabanan Rencanakan Sebar Tiga Pusat Mitigasi Bencana

TABANAN, Kilasbali.com – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tabanan berencana menyebar pusat mitigasi bencana ke tiga titik strategis pada 2027 mendatang.
Pembagian pusat mitigasi ini dilakukan untuk memudahkan dan mempercepat upaya penanggulangan bencana.
Tiga titik itu sendiri meliputi Timur, Tengah, dan Barat dengan karakteristik bencana yang berbeda-beda.
Mulai dari kebakaran atau pohon tumbang di kawasan pemukiman, orang hanyut di kawasan pantai, longsor di kawasan pegunungan atau dataran tinggi.
Pembagian tiga pusat mitigasi bencana itu sejatinya bukan wacana baru. Di masa lalu, usulan ini sempat mengemuka untuk mempercepat respon penanggulangan kebencanaan.
Namun, hal itu mengemuka lagi seiring pengajuan rancangan peraturan daerah (ranperda) tentang penanggulangan bencana daerah.
Ranperda itu diajukan bersama tiga ranperda lainnya dalam rapat paripurna yang berlangsung di DPRD Tabanan pada Rabu (23/6).
Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, menilai penyebaran satuan tugas di bidang penanggulangan bencana ini cukup mendesak.
Ini karena luasnya wilayah Tabanan yang disertai dengan tingginya mobilitas di jalur-jalur padat kendaraan.
“Titik-titik sentralnya kami bagi tiga. Ada Timur, Tengah, dan Barat,” ujar Sanjaya usai menyampaikan pidato pengantar empat ranperda di DPRD Tabanan, Rabu (24/6).
Sanjaya memaparkan, teknis operasional di tiga zona tersebut nantinya akan menyerupai Unit Pelaksana Teknis (UPT) untuk memudahkan birokrasi penanganan di lapangan.
Skema ini juga mencakup pendistribusian sarana dan prasarana penunjang, seperti pembagian armada pemadam kebakaran ke setiap sekretariat di wilayah masing-masing.
“Kayak UPT begitu. Tujuannya untuk memudahkan untuk penanggulangan kebencanaan,” ujarnya.
Menurutnya, dengan pembagian tersebut, upaya penanggulangan bencana mampu dilakukan secara cepat.
“Pasar itu rawan kebakaran. Di wilayah gunung itu longsor. Di wilayah pantai orang hanyut. Tiga ini yang perlu dipetakan. Dengan adanya perda kami di eksekutif lebih mudah menganggarkan,” imbuhnya.
Pihaknya menargetkan seluruh sistem ini dapat berjalan optimal pada 2027 mendatang. Ini karena di 2027 mendatang, program pembangunan infrastruktur fisik sudah mulai berkurang.
Sehingga, fokus anggaran pada 2027 mendatang akan diarahkan ke bidang layanan dasar seperti kesehatan, pendidikan, termasuk di bidang kebencanaan.
Di bidang kesehatan, fokusnya akan diarahkan pada Puskesmas dan Pustu atau Puskesmas Pembantu. Di bidang pendidikan mengarah pada sekolah-sekolah rusak.
Sebelumnya, saat menyampaikan pidato pengantar, Sanjaya mengungkapkan bahwa sesuai Indeks Risiko Bencana Indonesia (IRBI) 2024, Tabanan dalam kategori risiko sedang dengan skor 122,31. “Kami sudah set up di 2027. Nanti kami urai,” pungkas Sanjaya. (c/kb)

















