Fadli Zon Singgung CCIs Pasca 2030 Dalam Temu Wicara Budaya di Tabanan

TABANAN, Kilasbali.com – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menyebutkan peran sektor kebudayaan dalam peradaban dunia di masa mendatang akan menjadi sangat penting.
Bahkan, sektor kebudayaan akan menjadi model industri dengan istilah CCIs (Cultural and Creative Industries) atau Industri Budaya dan Kreatif.
CCIs sendiri menggabungkan penciptaan, produksi, dan komersialisasi konten kreatif yang tidak berwujud dan memiliki nilai budaya.
Selain itu, CCIs juga mendorong pertumbuhan ekonomi dan sosial melalui inovasi, lapangan kerja, dan pengayaan identitas budaya.
Ini diungkapkan Fadli Zon saat mengisi Temu Wicara Budaya di Gedung Kesenian I Ketut Maria pada Jumat (5/9).
“Kebudayaan ke depannya akan menjadi sangat penting. Sebenarnya dari dulu penting,” ujar Fadli Zon dalam acara yang dihadiri para budayawan dan seniman tersebut.
Sekarang ini, sambungnya, dunia masih ada dalam satu kampanye bersama yang namanya pembangunan berkelanjutan yang targetnya di 2030.
“Tapi pasca 2030 nanti, dunia akan melihat yang dikembangkan adalah budaya,” sebutnya.
Terlebih saat ini dunia dalam kondisi semakin tidak jelas dengan bermunculannya konflik, perang, kebijakan-kebijakan yang mengarah unilateralisme, dan ketidakpastian.
“Tetapi kita yakin, yang bisa menyatukan adalah kebudayaan. Politik bisa memecahbelah, tetapi budaya bisa menyatukan. Ini yang harus ditanamkan,” tegasnya.
Hal ini juga yang sempat menjadi bahasan utama dalam Konferensi CHANDI (Culture, Heritage, Art, Narative, Diplomacy, and Innovation) 2025.
Konferensi bertema Culture for The Future dan dihadiri 39 delegasi negara ini berlangsung di Sanur selama 3-5 September 2025.
Konferensi internasional bertujuan menjadikan budaya sebagai kekuatan pemersatu, mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif, dan menegaskan komitmen pelestarian warisan budaya.
Selain itu, Fadli Zon juga menegaskan bahwa upaya untuk memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia juga sudah menjadi amanat konstitusi dalam Pasal 32 ayat (1) Undang-Undang Dasar NKRI.
“Ini perintah konstitusi. Bukan hanya diminta memajukan di Indonesia, tetapi di tengah peradaban dunia,” imbuhnya.
Ia juga menyebutkan bahwa kebudayaan merupakan soft power atau kekuatan lunak yang harus saling mengisi dengan hard power seperti di dunia militer.
“Di beberapa tempat, yang namanya soft power menjadi bagian penting dalam strategi kebudayaan nasional,” bebernya.
Ia mencontohkan dengan Hollywood yang sudah ada sekitar seratus tahun lalu di Amerika Serikat.
Industri film itu sudah melakukan ekspansi budaya melalui cerita yang mengangkat nilai-nilai individualisme sampai dengan kapitalisme melalui film.
Hal serupa juga dilakukan oleh India melalui industri filmnya yakni Bollywood dan Nigeria dengan Nollywood.
“Korea juga menggunakan soft power luar biasa dengan drakor masuk sampai kampung-kampung. Ada K-Pop. Sampai fanbase-nya ada. Saya kira di Tabanan juga ada. Itu namanya soft power,” sebutnya.
Selain menyampaikan hal-hal tersebut, Fadli Zon dalam kunjungannya di Tabanan juga sempat menyaksikan potensi dan eksistensi sejumlah kesenian di Jero Tengah, Banjar Tegal Belodan, Desa Dauh Peken.
Fadli Zon yang disambut langsung oleh Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, menyaksikan pagelaran seni pertunjukan gamelan dan tari bertajuk Dinamika Aura Warisan Budaya yang dipimpin I Gusti Nengah Hari Mahardika.
Berikutnya, Fadli Zon juga menyaksikan pertunjukan seni gamelan dan Tari Kebesaran Jayaning Singasana AUM dan Tari Kebyar Duduk ciptaan Maestro I Ketut Maria.
Selanjutnya, pembacaan puisi oleh I Gusti Putu Bawa Samar Gantang dan I Gusti Ayu Putu Mahindu Dewi Purbarini.
Selanjutnya sebelum menjadi pembicara dalam Temu Wicara Budaya, ia juga sempat membuka pameran lukisan bertajuk Aneka Warna Gaya di Kota Pelangi dari Komunitas Maha Rupa Batukaru yang diselenggarakan di Gedung Kesenian I Ketut Maria. (c/kb)
















