
GIANYAR, Kilasbali.com – Sempat mereda, hama tikus kembali ‘ngerusuh’ mengusik petani di Gianyar. Kali ini ‘Jero Ketut’ berulah dengan menyerang lahan pertanian di subak kawasan Kecamatan Blahbatuh dan sebagian di Tampaksiring.
Subak yang terparah adalah Subak Kelawan, Subak Kutri dan sebagian subak di Pejeng Kelod, Tampaksiring.
Kepala UPT Pengendalian Hama Tanaman Distannak Gianyar, Kadek Marta, Selasa (26/8) membenarkan terjadinya serangan hama tikus tersebut.
Dijelaskan pada serangan hama tikus sebelumnya sudah tertangani, namun kini malah muncul lagi.
Disebutkan serangan hama tikus tidak seganas serangan hama tikus sebelumnya. Diduga habitat tikus ini berada di tanah-tanah terbengkalai sebagai tempat persembunyian tikus.
“Kali ini serangannya tidak terkonsentrasi pada satu titik, namun menyebar di beberapa titik,” jelas Kadek Marta.
Upaya yang sudah dilakukan adalah memberikan semacam komposit yang disebar di titik-titik serangan hama.
Namun upaya ini hanya berhasil sementara dan setelah komposit tersebut terkena hujan, efeknya menghilang.
Kadek Marta memberikan jalan keluar yang paling tradisi adalah dengan Gotong Royong ‘Ngeropyok’. Upaya ini adalah secara bersama seluruh warga subak memburu tikus dan mencari tempat habitat tikus beranak pinak.
Langkah tersebut peluangnya sangat besar untuk kebersihan, dimana petani juga sudah hafal tempat tikus beranak pinak.
“Upaya Ngeropyok ini harus dilakukan bersama di seluruh subak yang terserang hama, sehingga ketika tikus lari bisa diburu sampai ke persembunyian,” ajaknya.
Dikatakan Marta, diduga tikus bersembunyi di lahan-lahan terbengkalai di sekitar kawasan subak di Buruan sampai ke Pejeng. Saat ini juga sedang diupayakan memberikan umbi sekapa pada lubang-lubang tikus, namun efektifitas belum teruji.
Anggota DPRD Gianyar, Gusti Ngurah Agung Kapidada berharap upaya yang dilakukan Distannak bisa berhasil. Mengingat saat masa panen, hasil yang didapat bisa turun sampai 40%.
“Harapan kami upaya penanggulangan hama tikus bisa berjalan dengan baik,” harap Kapidada.
Disamping itu diharapkan Distannak bisa memberikan bantuan kepada petani yang mengalami gagal panen. Dengan turunnya hasil produksi sampai 20% saja, biaya operasional petani tidak tertutupi.
“Mereka itu petani yang mengandalkan hasil panen, dengan gagal panen tentu income menurun,” jelasnya. (ina/kb)

















