
TABANAN, Kilasbali.com – Pihak Yayasan Gayatri Widya Mandala selaku pengelola panti asuhan di Kabupaten Tabanan yang belakangan ini jadi sorotan akhirnya bersuara.
Mulai dari soal isu melakukan eksploitasi anak dengan menyuruh berjualan di pasar, anak-anak asuh yang tidak betah dan merasa tertekan dengan aturan di panti, hingga keracunan makanan.
Terlebih lagi, belum lama ini Komisi IV DPRD Tabanan yang melakukan inspeksi mendadak (sidak) menemukan ada beberapa hal yang dirasakan janggal.
Misalnya soal rasio atau perbandingan antara jumlah pengasuh dengan anak yang diasuh hingga soal ijazah yang masih ada di yayasan.
“Kami siap untuk menjelaskan persoalan yang ada. Kami tidak mau menutup-nutupi,” tegas Ketua Yayasan Gayatri Widya Mandala, Wiwin Sri Pujiastuti, Kamis (26/6).
Ia menyebutkan, saat rombongan Komisi IV sidak, pihaknya sedang ke RSUP Ngoerah di Sanglah, Denpasar, untuk memeriksakan kesehatan salah satu bayi yang divonis hidrosefalus.
Wiwin tak memungkiri ada beberapa anak asuh yang kabur dari panti. Pihaknya tidak mengetahui apa yang menjadi alasan mereka kabur.
Ijazah mereka yang kabur inilah masih ada di yayasan. Mereka rata-rata remaja yang duduk di bangku SMP hingga SMA.
“Ijazah yang di sini, ijazah SD dan SMP mereka yang diawal dipakai untuk mengurus masuk ke SMA/SMK. Ijazah terakhir (SMA/SMK) mereka yang bawa,” terangnya.
Ia memperkirakan, kaburnya belasan anak-anak yang bukan berstatus yatim atau yatim piatu itu dikarenakan tidak bisa mengikuti aturan atau disiplin di panti.
“Kami punya standar cukup tinggi untuk pengasuhan terutama pada disiplin. Anak-anak yang di rumahnya longgar, ke mana-mana boleh, di sini mungkin merasa tertekan,” ujarnya.
Soal disiplin, Wiwin menegaskan ada tiga perbuatan yang mereka masukkan ke dalam kategori pelanggaran berat yakni pacaran, berbohong, dan mencuri.
“Tiga (pelanggaran) ini tidak kami tolerir. Kalau ada yang bilang umur segitu boleh (pacaran) bukan di sini tempatnya. Ini agar tidak berimbas atau ditiru anak-anak lainnya,” tegasnya.
Bahkan ia menyebutkan, pihaknya sempat mengeluarkan delapan orang anak-anak dengan pasangannya dari sini. “Ekstrim. Kami tidak ingin terulang lagi,” imbuhnya.
Ia juga menjawab soal adanya anak-anak panti yang berjualan bakso di pasar Jalan Gajah Mada. Ia menyebutkan itu terjadi pada Juni 2024 lalu saat musim libur sekolah.
Pengakuannya, itu berawal dari salah seorang anak asuh yang duduk di bangku kelas dua SMK melakukan pelanggaran disiplin yakni menumpuk pakaian kotor.
Ia mengeklaim, anak tersebut awalnya sudah diberikan nasehat. Namun, karena tidak ada perubahan, pihaknya menyarankan dia untuk belajar langsung ke luar panti.
“Kami minta keluar (panti). Coba kamu tawarkan jasa kamu. Kebetulan yang menerima penjual bakso di Jalan Gajah Mada. Dia melamar jadi pelayan di sana,” sebutnya.
Saat itu, tidak ada persoalan sama sekali. Anak itupun mengaku senang dengan kehidupan di luar panti. Pihaknya punya kesimpulan anak tersebut suka berinteraksi dengan orang di luar.
“Kalau happy bertemu dengan banyak orang, kami akan tempatkan untuk menerima tamu atau jadi admin di depan (kantor),” jelasnya.
Saat bertugas menjadi admin, anak itu dipercaya untuk menyerahkan bukti donasi kepada para donatur menggunakan ponsel.
Hanya saja, ia mengeklaim anak tersebut menyalahgunakan ponsel tersebut. “Saat itu tidak masalah. Kami juga bingung kenapa baru muncul (persoalan) sekarang,” imbuh Wiwin.
Kemudian soal uang hasil berjualan bakso itu, Wiwin menyebutkan bahwa pihaknya mengajarkan anak itu untuk berdonasi.
Dari hasil kerja sebagai pelayan tersebut, anak itu mendapatkan bayaran Rp 50 ribu. “Saya lupa berapa kali (kerja). Kemudian kami ajarkan agar uang itu didonasikan. Selayaknya donatur kami,” tukasnya.
Berikutnya soal keracunan makanan, ia mengakui itu memang sempat terjadi. Bahkan, saat itu sembilan anak di antaranya masuk UGD. Dari sembilan anak itu lima di antaranya harus opname.
Keracunan yang sempat terjadi pada beberapa anak asuh itu terjadi usai mengonsumsi makanan atau snack yang diperoleh saat kunjungan salah satu perguruan tinggi.
Terhadap kejadian itu, pihaknya kemudian bertanya kepada donatur saat itu. Namun, mereka tidak mengetahuinya karena makanan tersebut dipesan dari catering.
“Kami yakin itu bukan kesengajaan. Lebih ke insiden. Kami tidak enak bawa (masalah keracunan) ini ke polisi. Yang penting anak-anak selamat,” sebutnya.
Dengan adanya berbagai persoalan yang belakangan ini terjadi, pihaknya akan mengevaluasi pengelolaan panti ke depannya. Termasuk melakukan seleksi ketat terhadap calon anak-anak asuh.
“Kebanyakan (anak-anak asuh) yang kabur itu punya orang tua. Mungkin ini jadi evaluasi kami ke depan untuk lebih selektif menerima anak-anak ke depannya,” pungkas Wiwin.
Di luar itu, Wiwin menegaskan pihaknya siap untuk memberikan keterangan kepada Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) maupun Komisi IV DPRD Tabanan yang sempat sidak beberapa waktu lalu. (c/kb)

















