ARM Hospitality dan 52 Studios Singapore Sukses Tayangkan “Rumah Kedua”

DENPASAR, Kilasbali.com – Kolaborasi apik antara ARM Hospitality, grup perhotelan asal Indonesia dan 52 Studios Singapore, rumah produksi asal Singapura, merayakan kesuksesan bersama lewat tayangan perdana gala premiere film pendek “Rumah Kedua” (Home Away) di Studio XXI, Trans Studio Mall (TSM) Bali, Jumat (12/6/2026).
Hal ini merupakan kolaborasi lintas negara yang mempertemukan dunia perhotelan dan perfilman untuk menghadirkan kisah tentang keluarga, rasa memiliki, dan perjuangan meraih masa depan yang lebih baik.
Digagas sejak lima tahun lalu oleh Chief Executive Officer (CEO) ARM Hospitality Ronny Soetanto dan menampilkan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi industri perhotelan. Menghadirkan sebuah cerita yang relevan bagi para profesional perhotelan juga siapa saja yang pernah menghadapi dilema antara mengejar impian pribadi dan memenuhi tanggung jawab terhadap keluarga.
Disutradarai Cleve Low dan diproduseri Goh Wei Woon dari 52 Studios Singapore, film ini mengisahkan perjalanan emosional sosok Baskara, seorang pemuda yang meninggalkan kampung halamannya di Banyuwangi, Jawa Timur, untuk bekerja dan mengukir masa depan yang lebih baik di Bali. Namun harus menghadapi beban batin yang begitu berat, karena meninggalkan ayah dan adik kandungnya.
Melalui narasi yang menyentuh hati, film berdurasi pendek sekitar 30 menit ini mengangkat tema pengorbanan, tanggung jawab, keluarga, dan pilihan sulit yang harus dihadapi banyak orang, ketika tengah mencari peluang lebih baik dan jauh dari rumah.
“Lima tahun lalu, saya bermimpi menciptakan sebuah cerita yang mencerminkan nilai-nilai yang kami junjung tinggi di ARM Hospitality. Melalui film “Rumah Kedua” ini semoga dapat mengingatkan para penonton bahwa meski mengejar kesuksesan dan peluang itu penting, namun kita tidak boleh melupakan nilai-nilai yang paling berarti dalam hidup yaitu, integritas, kasih sayang, dan keluarga,” ujar Ronny Soetanto.
Menurut Goh Wei Woon, proyek ini memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar produksi film dan menjadi bentuk kolaborasi dua negara, dua budaya, dan keyakinan bersama terhadap kekuatan sebuah cerita.
“Sejak awal, kami melihat proyek ini sebagai kesempatan untuk menciptakan sesuatu yang sangat personal namun juga universal. Tantangan terbesar adalah menjaga visi Pak Ronny, sambil merangkai cerita yang dapat terhubung secara emosional dengan penonton dari berbagai latar belakang,” katanya, seraya menuturkan, hal ini membutuhkan kepercayaan, kolaborasi, dan keselarasan kreatif yang kuat antara tim Singapura dan Indonesia.
Sutradara sekaligus CEO 52 Studios Singapore Cleve Low mengungkapkan, salah satu pengalaman paling berkesan selama produksi adalah menghadapi perbedaan budaya dan bahasa antara tim Singapura dan Indonesia. Dalam proses pengembangan naskah, tim menghabiskan banyak waktu untuk menyempurnakan dialog agar terdengar alami sekaligus emosional.
“Dialog mungkin terdengar indah di atas kertas, tetapi keaslian jauh lebih penting daripada sekadar terdengar puitis. Kami terus menyempurnakannya hingga terasa benar-benar alami seperti cara orang berbicara dan berinteraksi sehari-hari, melalui berbagai percakapan itu pada akhirnya membuat film ini terasa lebih nyata dan dekat dengan penonton,” jelas Cleve Low.
Judul “Rumah Kedua” mencerminkan salah satu gagasan utama film ini: bahwa rumah tidak selalu ditentukan oleh lokasi geografis, tetapi oleh orang-orang, nilai, dan rasa memiliki yang ditemukan sepanjang perjalanan hidup. Film ini juga menjadi penghormatan bagi para pekerja di balik layar industri perhotelan yang sering kali tidak terlihat, namun dedikasinya menghadirkan pengalaman bermakna bagi banyak orang setiap hari.
Kedalaman emosi dalam cerita ini diperkuat oleh penampilan Wahyu Aristiawan, yang memerankan figur Baskara. Aktingnya berhasil menggambarkan konflik batin yang dialami banyak orang saat meninggalkan rumah demi masa depan yang lebih baik, namun tetap memikul tanggung jawab besar terhadap keluarga.
“Saya tertarik pada karakter Baskara karena konflik batinnya sangat nyata dan dekat dengan kehidupan banyak orang. Melalui peran ini, saya belajar bahwa kesuksesan di tempat yang jauh dari rumah tidak akan pernah terasa utuh jika kita melupakan keluarga dan nilai-nilai yang membentuk diri kita,” ujar Wahyu.
Termasuk penampilan Husni Wardana Holle yang memerankan sang General Manager sekaligus mentor di tempat kerja. “Semoga para penonton, terutama para pemimpin dapat melihat bahwa seorang manajer bukan hanya mengawasi operasional, tetapi juga seorang mentor dan pelindung. Kepemimpinan yang sejati dibangun atas dasar empati dan kemampuan memahami beban yang dipikul karyawan secara diam-diam,” katanya.
Sementara, Randy Tazly, seorang profesional di industri perhotelan yang melakukan debut aktingnya sebagai Agus, menghadirkan nuansa yang autentik berkat pengalamannya sendiri di dunia hospitality. “Cerita ini terasa sangat personal. Pengalaman yang digambarkan dalam film ini mencerminkan banyak hal yang kami alami setiap hari untuk menciptakan rasa nyaman bagi para tamu, sambil tetap menahan kerinduan terhadap rumah kami sendiri,” ungkapnya.
Kedalaman emosi film ini juga diperkuat oleh kontribusi produser musik dan audio asal Bali I Ketut Susila, yang memimpin produksi musik bersama Music Director 52 Studios Singapore Chloe Low. Sekaligus bertanggung jawab terhadap seluruh proses desain suara, penyuntingan dialog, juga pascaproduksi audio akhir film ini, serta membangun atmosfer emosional film melalui lanskap suara yang dirancang secara cermat untuk mendukung tema kerinduan, pengorbanan, dan rasa memiliki yang menjadi inti cerita.
“Suara dan musik adalah alat penceritaan yang sangat kuat, karena langsung berbicara kepada emosi manusia. Tujuan kami bukan untuk mengarahkan apa yang harus dirasakan penonton, tetapi menciptakan ruang emosional agar mereka dapat menjalani perjalanan bersama para karakter. Ketika penonton merasa terhubung dengan sebuah adegan tanpa menyadari alasannya, saat itulah musik dan suara menjalankan tugasnya dengan baik,” ujar Susila.
Gala Premiere di Bali ini menandai awal perjalanan “Rumah Kedua” menuju audiens yang lebih luas. Setelah debutnya yang sukses, tim produksi berencana mengirimkan film ini ke berbagai festival film, serta mengadakan pemutaran tambahan, guna membawa pesan tentang empati, rasa memiliki, dan hubungan antarmanusia kepada penonton di kawasan regional maupun internasional.
“Rumah Kedua” hadir bukan hanya sebagai sebuah film, tetapi juga sebagai bukti nyata bahwa ketika orang-orang dari negara, budaya, dan latar belakang yang berbeda bersatu padu dengan tujuan yang sama, maka mereka dapat menciptakan cerita yang benar-benar bermakna. (Kb/djo)

















