Peringati Isra Mikraj 1446 H, GP Ansor Tabanan Gelar Kajian Kebangsaan

Peringati Isra Mikraj 1446 H, GP Ansor Tabanan Gelar Kajian Kebangsaan
TABANAN, Kilasbali.com – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Tabanan menggelar kajian kebangsaan untuk memperingati Isra Mikraj 1446 Hijriah pada Minggu (26/1).
Kegiatan yang berlangsung di aula Madrasah Ibtidaiyah (MI) Maarif di Perum Bukit Sanggulan Indah, Desa Banjaranyar, Kecamatan Kediri, itu juga dirangkai dengan Harlah Nahdlatul Ulama (NU) Ke-102, Majelis Zikir dan Sholawat Rijalul Ansor.
Kajian yang juga mengundang organisasi Islam lainnya seperti Muhammadiyah, Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), Majelis Ulama Indonesia (MUI), para penyuluh agama, para santri dan remaja masjid ini juga diisi Dengan Menolak Paham Radikan dan Terorisme.
Kajian itu diisi oleh KH Andillah Asad selaku penceramah dengan materi yang menekankan soal pentingnya Al Quran dan Hadis sebagai sumber pemahaman agama Islam. Fokus utamanya pentingnya bimbingan dalam membaca Al Quran dan sanad dalam memaknai hadis.
Dua hal tersebut penting sebagai pegangan untuk menghindari penafsiran yang keliru. “Membaca Al Quran membutuhkan bimbingan. Tidak sekadar membaca teks tanpa guru untuk menghindari kesalahan pemahaman yang menjadi paham radikal,” tegasnya.
Dalam konteks ini, ia menyebut ideologi tanpa konteks dapat menjadi alat manipulasi yang bisa mengarah pada paparan pemahaman yang salah dan menyimpang. “Sehingga diperlukan pemahaman Al Quran yang benar, berdasarkan akal, konteks, waktu, dan rasa,” imbuhnya.
Demikian halnya dalam pemahaman terhadap hadis, ia juga menekankan soal pentingnya sanad atau jalur periwayatan dari hadis itu sendiri.
“Agama harus dipahami secara menyeluruh, melibatkan akidah, syariah, tasawuf, hingga penerapan nilai-nilai sosial dan budaya. Konsep Aswaja (Ahlus Sunnah wal Jamaah) menjadi landasan penting dalam beragama dan bernegara,” ujarnya.
Karena itu, ia menyebut semangat nasionalisme santri telah lahir dari perjuangan para ulama di pesantren yang memiliki sanad keilmuan yang kuat.
Ia mencontohkan peran pendiri NU, KH. Hasyim Asy’ari dalam mempersatukan umat melalui pendidikan dan tradisi keagamaan.
“Kita harus bisa menerapkan nilai ini di Indonesia, mencintai negeri sebagai bagian dari iman. Menangkal setiap gerakan yang dapat membahayakan ketutuhan bangsa,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua GP Ansor Tabanan yang juga selaku panitia, Dodik Irawan, menyebutkan bahwa pihaknya memanfaatkan peringatan Isra Mikraj untuk memperkuat rasa nasionalisme dan menangkal gerakan radikalisme dan terorisme.
Ia meyakini, seluruh organisasi Islam di Tabanan memiliki pandangan yang sama. “Khususnya di Tabanan. Dengan semangat kebangsaan ini, kami berharap bisa menjadi benteng,” pungkasnya. (c/kb)
Keterangan Foto :
Suasana Kajian Kebangsaan yang digelar GP Ansor Tabanan dalam memperingati Isra Mikraj 1446 Hijriah di aula Madrasa Ibtidaiyah (MI) Maarif pada Minggu (26/1).

















