
DENPASAR, Kilasbali.com-Rumor calon legeslatif (caleg) megandong ditanggapi dingin oleh politisi senior Gede Pasek Suardika. Politisi Partai Hanura ini melihat tidak ada caleg megandong. Dalam artian caleg itu diam, dibawa kemana-mana oleh seseorang, kemudian caleg itu terpilih.
Menurut pria yang akrab disapa GPS ini, yang ada adalah caleg yang memiliki kedekatan, sehingga memaksimalkan potensi politik yang ada di tempat yang ia rasa memiliki kedekatan. Baik itu dekat dengan kepala daerah, struktur partai, maupun komunitas, serta yang lainnya. “Itu hanyalah masalah teknik saja, belum tentu juga caleg yang seperti itu akan dipilih juga. Karena mereka juga kan dinilai dan dipilih rakyat,” katanya di Denpasar, Jumat (18/1/2019).
Lebih lanjut mengatakan, rakyat akan menilai dan melihat para kandidat caleg itu sendiri. Kendatipun mereka ikut wara-wiri, namun tidak terlihat bagus, rakyat mana mau memilih. Walaupun dipaksakan oleh yang mengajak para caleg tersebut, itu malah akan berbalik, yang mengajak akan kehilangan kepercayaan.
Memaksimalkan potensi kedekatan, tambah GPS, merupakan setrategi politik untuk meraih simpati rakyat, dan itu adalah kapital politik yang sederhana. Walaupun kesanannya unfiar competition (persaingan tidak sehat, red). Karena ada caleg lain yang tidak difasilitasi. “Caleg yang lain semestinya juga harus membuat komunikasi yang baik juga, baik itu dengan kepala daerah, setruktur partai, maupun yang lainnya,” bebernya.
Bahkan dari pridiksinya, caleg yang memanfaatkan politik kedekatan itu kecil kemungkinan akan terpilih. Kendatipun di beberapa daerah ada yang terpilih, namun itu sangat jarang terjadi.
Sementara saat ditanya terkait politik kedekatan menjadi kecemburuan bagi para caleg pendatang baru? Menurut GPS, itulah kelemahan politik kita. Di mana adu wawasan dikalahkan dengan adu besar-besaran bansos yang sujatinya adalah hak rakyat yang difasilitasi oleh dewan terpilih. “Jadi akhirnya pragmatisme politik yang terjadi. Jadi sama-sama datang bawa dana APBD turun ke masyarakat,” ujarnya.
Kendatipun demikian, GPS menilai adalah hal yang biasa-biasa saja. Masing-masing caleg memiliki setrategi dan teknik untuk menggaet simpati masyarakat. “Kalau megandong jauh lebih hemat, memang iya. Tetapi apakah rakyat melihat itu sama dengan pilihannya? Tentu tidak. Rakyat ingin otentik, originalitas, dan juga kapasitas mandiri caleg. Jadi rakyat itu tetap memilih figurnya. Masalah dia datang itu dengan siapa, itu tidak berpengaruh signifikan,” tandasnya. (jus/*KB).

















