Setitik Sinar di Masa Pandemi

DENPASAR, Kilasbali.com – Pariwisata sebagai lokomotif perekonomian Bali hampir 2 tahun mengalami stagnan tanpa pergerakan. Sejak 14 Oktober 2021 Bali siap sebagai pilot project dibukanya perjalanan internasional.
Sejauh ini Bali siap dengan penerapan protokol kesehatan di sejumlah destinasi pariwisata, desa wisata, termasuk hotel yang sudah bersertifikat CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability), fasilitas umum seperti swalayan, pasar tradisional, serta kesiapan rumah sakit rujukan Covid-19 bagi wisatawan yang terdeteksi positif pasca masuk pintu bandara.
Beberapa langkah yang dilakukan adalah vaksinasi bagi masyarakat dan ketaatan masyarakat Bali membuat gambaran penyebaran Covid-19 semakin melandai. Dengan melakukan testing, tracking, dan treatment yang cepat dan tepat memberi penanganan yang baik bagi pasien yang terdeteksi positif Covid-19.
Pemberlakuan karantina selama 5 hari bagi wisatawan mancanegara yang berkunjung ke Bali merupakan standar yang diputuskan untuk meminimalisir peluang berkembangnya kembali Covid-19 di Bali pasca pintu masuk dibuka.
Keselamatan dan kesehatan masyarakat masih menjadi kunci utama bagi Bali. Dengan kesiapan 35 hotel karantina dan tidak diperbolehkan menerima wisatawan non karantina serta di sesuaikan per hari kedatangan.
Pembukaan ini dilakukan untuk memperbaiki perekonomian Bali yang sudah dihantam pandemi Covid-19. Namun tetap kesehatan masyarakat menjadi hal yang utama.
Kadis Pariwisata Bali I Putu Astawa mengatakan hal yang masiv dilakukan menyambut kedatangan wisman yakni vaksinasi Covid-19, penerapan prokes sesuai standar dengan disiplin terus digencarkan, sertifikasi CHSE terhadap akomodasi pendukung pariwisata seperti hotel, restoran, transportasi, dan objek wisata sudah dilakukan.
“Dan yang terpenting dari itu kita sudah menyiapkan Standar Operational Prosedur (SOP) kedatangan wisatawan internasional di bandara,” sebutnya.
Selain itu juga ditentukan kriteria bagi wisman yang akan masuk ke Bali diantaranya berasal dari negara yang memiliki resiko penularan Covid-19 yang rendah, 72 jam sebelum boarding di pesawat menunjukkan surat keterangan bebas Covid-19, setelah sampai di bandara mereka akan di Swab, apabila mereka negatif akan dikarantina di hotel.
Jadi semua tahap ini dilakukan sebagai uji coba mitigasi mengantisipasi kemungkinan adanya gelombang-gelombang Covid-19 yang baru.
“Kita tidak ingin gelombang tersebut ada di Bali. Sehingga semakin susah untuk mempersiapkan diri menerima kunjungan wisatawan supaya bisa normal. Ini penting untuk melakukan mitigasi pencegahan terlebih-lebih di tahun 2022 nanti Bali menjadi tuan rumah beberapa pertemuan-pertemuan internasional. Jadi prinsip kehati-hatian di dalam hal ini sudah menjadi komitmen bersama semua pihak,” imbuhnya.
Menyikapi hal ini, Managing Director The Nusa Dua ITDC, I Gusti Ngurah Ardita mengatakan selaku pengelola kawasan Nusa Dua, ada 7 hotel di kawasan ITDC Nusa Dua yang melakukan assesment untuk dijadikan tempat karantina.
“Kita sedang menunggu SOP. Saat ini sedang diproses bagaimana mengimplementasikan konsep karantina ini. Setelah keluar kami akan bicarakan lagi dengan pihak hotel. Mereka ikut dalam program itu, mekanismenya seperti apa,” sebutnya.
Managing Director The Nusa Dua ITDC ini
menjelaskan dulu saat persiapan awal ada 7 hotel yang di assesment oleh KKP kemudian ditambah satu hotel lagi sesuai dengan kriteria kala itu.
Ardita juga menambahkan setelah penerbangan internasional dibuka untuk Bali, selain wisatawan manca negara, wisatawan domestik juga harus diperhitungkan pergerakannya.
Sementara itu praktisi pariwisata sekaligus pemilik Krisna Oleh-oleh, Gusti Ngurah Anom atau akrab disapa Ajik Cok menyambut positif dan merasa optimis seiring dibukanya pariwisata Bali di bulan Oktober.
Menurutnya sektor kesehatan pengunjung adalah yang sangat penting untuk menjadi perhatian. Langkah yang ditempuh oleh Ajik Cok adalah penerapan protokol kesehatan ( prokes) yang ketat di tempat usaha, salah satunya dengan pemasangan QR Code Pedulilindungi.
“Semua outlet Krisna sudah pakai Pedulilindungi karena prokes itu adalah kunci untuk menjaga kesehatan bagi tamu-tamu yang datang. Saya yakin pariwisata Bali akan kembali menggeliat. Saya optimis dan bersyukur yang terdampak di dalam pandemi ini 80 persen adalah Bali. Artinya Bali itu kan 80 persen pariwisata. Sedangkan andaikata semua terdampak seperti Bali misalkan Jawa dan DKI, mungkin ekonomi akan lumpuh,” imbuhya.
Ajik Cok menambahkan begitu PPKM perlahan dibuka, kunjungan ke Bali mulai ramai.
“Saya sudah survey termasuk di mall dan beberapa outlet Krisna di Badung itu sudah mulai ramai atau kisaran angka 60 persen,” sebutnya.
Hal yang paling penting untuk menggeliatkan ekonomi Bali kembali dikatakan Ajik Cok adalah mendatangkan wisatawan domestik dahulu, baru secara bertahap disusul wisatawan manca negara.(sgt/kb)

















