Buku Cerita Anak Masih Kurang, Bali Muda Foundation Gelar Workshop dan Terbitkan 5 Buku

DENPASAR, Kilasbali.com – Berangkat dari keprihatinan masih kurangnya buku cerita untuk anak, Bali Muda Foundation menggelar workshop bagi para guru di Bali untuk menulis cerita anak. Dari workshop ini, Bali Muda Foundation berhasil menerbitkan 5 buah buku cerita anak.
Project Manager Bali Muda Foundation, Donnie Weda Dharmawan mengatakan sebagai seorang tenaga pendidik, ia melihat masih sedikit buku cerita anak, sehingga akhirnya dibuatkan pelatihan menulis buku cerita anak yang diikuti oleh para guru.
Para guru yang diundang pun menyambut antusias karena baru kali ini ada workshop menulis cerita anak.
“Pelatihan yang detail dan sampai jadi buku. Antusiasme dan semangat mereka itu benar-benar di luar dugaan untuk ikut workshop ini,” ucapnya saat ditemui di Balai Bahasa Provinsi Bali, Kamis (16/9/2021).

Donnie menambahkan rencana ke depan, pihaknya akan membuat lomba mendongeng terkait buku-buku yang telah diterbitkan ini.
“Kita akan audiensi ke bupati masing-masing kabupaten. Harapannya kita bisa terus adakan workshop ini. Terus konsisten, buku yang diterbitkan semakin banyak, dukungan juga semakin banyak,” imbuhnya.
Ia juga menjelaskan workshop diikuti 75 peserta, lalu dipilih menjadi 20 naskah. Kemudian diseleksi lagi menjadi 10 besar. Dari 10 besar ini, 5 buku diterbitkan oleh
Bali Muda Foundation, dan 5 lagi diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Bali.
Sementara itu Anida Fajriani penulis buku Buni dari Buana menyatakan dirinya baru
kali pertama menulis buku.
“Karya ini sebagai bentuk keabadian. Cerita anak punya tantangan tersendiri,” sebutnya.
Theresia Christiani penulis buku Riri Kenari mengatakan ia baru pertama kali membuat buku. Biasanya ia menulis di buletin tapi dalam bentuk cerita.
“Berkarya di tengah pandemi tidak jadi halangan bagi guru untuk terus berkarya. Bali Muda Foundation memotivasi cara menulis dengan sangat mudah dimengerti.
Saya sangat terbantu,” jelasnya.
Made Adnyana penulis I Betung mengatakan menulis buku cerita anak adalah tantangan bagi guru Paud untuk membangun literasi bagi anak-anak.
” I Betung menceritakan seorang perajin bambu yang memang sangat diperlukan bagi kegiatan upacara keagamaan,” tuturnya.
Sedangkan Ni Putu Sugilastini penulis Pepi Pencari Padi berharap kedepan dirinya bisa terus berkarya, tentunya dengan dibimbing lagi oleh Bali Muda Foundation. Karena menulis beramai-ramai menurutnya lebih seru.
“Harapan saya masih bisa menulis ke depan, tentunya dengan teman-teman komunitas karena lebih seru,” pungkasnya.(sgt/kb)

















