Bangkitnya Sekaa Gandrung Semara Ratih Klungkung

DENPASAR, Kilasbali.com – Penampilan Tari Gandrung dari Sekaa Gandrung Smara Ratih, Br. Pande, Desa Kamasan, Duta Kabupaten Klungkung adalah yang pertama sejak bertahun-tahun telah vakum. Ibarat merintis, mereka mengupas ingatan para seniman lingsir (tua) untuk mencari jejak pakem Gandrung di Klungkung.
Di Belakang panggung Kalangan Ayodya, Ni Wayan Sueni tampak cemas. Ia was-was, apa penampilan yang pertama kalinya ini dapat berjalan dengan baik? “Ini saya agak ketug-ketug (berdebar), karena kan anak-anak juga pada baru menarikan gandrung, takutnya gimana kan berhadapan dengan penonton tapi menggunakan payasan penari wanita,” ungkap Sueni, penggarap tari, saat ditemui Sabtu (22/6/2019).
Sekaa Gandrung Smara Ratih, Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Duta Kabupaten Klungkung mempersembahkan tari Gandrung yang bertempat di Kalangan Ayodya pukul 14.00 WITA.
Tari Gandrung sebenarnya bukan hal yang baru di Klungkung. Kemunculannya diketahui di Klungkung sekitar tahun 1934. Tari Gandrung Merupakan sebuah tari pergaulan yang dilakukan oleh penari laki-laki yang diilustrasikan sebagai perlambang kesuburan dan keselamatan. Tari ini dipakai sebagai kaul atau naur sesangi saat masyarakat diserang wabah penyakit cangkrim. Gandrung pun merupakan tarian yang sakral, pementasannya saat itu dipuput oleh Ida Pedanda dari Gria Pidada Klungkung.
Seiring berjalannya waktu, tari pergaulan ini berjaya di Kabupaten Klungkung pada tahun 1970an sampai memasuki tahun 1990an. Bahkan di tengah-tengah masa kejayaannya, muncul Sekaa Gandrung Semara Ratih. “Sekaa ini dibuat tahun 1987,” tutur Sueni.
Setelah masa kejayaan Gandrung di Klungkung mencuat, Gandrung pun mengalami kemerosotan regenerasi hingga vakum hingga bertahun-tahun yang tak dapat dipastikan oleh Sueni berapa lamanya. Dalam kesempatan PKB ke 41, Sanggar Semara Ratih coba kembali bangkit dengan Gndrungnya. “Jadi ada salah satu seniman lingsir yang berinisiatif untuk merintis dn mengingat ngingat kembali Gandrung tabuh yang lama,” ujar Sueni.
Tak adanya geliat Gandrung di Klungkung menurut Sueni dipengaruhi oleh dua hal. “Karena para seniman yang mengetahui (tari dan tabuh –red) sudah meninggal dan sudah tua-tua, kemudian dia tidak memberikan pada kaum yang muda, maka tidak ada regenerasi,” ucapnya. Selain itu, “dari penari juga terkadang kalau diajak seperti ah latihan joged, jadi terkadang enggan,” tambahnya.
Meski demikian, di tengah keterbatasan, Sekaa Gandrung Semara Ratih dan para warga Bajar Pande turut saling bersinergi. Sueni mengaku, meski tarian Gandrung termasuk tarian sakral, penampilannya kali ini bukanlah yang disakralkan. Biasanya, sebelum menarikan Tari Gandrung, penari harus melakukan pantangan dan juga pemilihan penari yang berpijak dari ritual.
“Karena saya belum bisa dan juga para penari berani, jadi saya membawa konsep pelegongan, hanya untuk menghibur masyarakat,” ujar Sueni. Kendati demikian, Sueni tetap berpijak pada pakem Gandrung terdahulu. “Jadi dulu itu ada satu jenis gerakan saja, tapi sekarang saya variasikan, dan komposisi penari tetap seperti dahulu, empat orang penari laki-laki yang diawali dengan tarian Gandrung Pengendag dan ada ngibingnya,” jelasnya.
Kadek Dodi Junia Putra, salah satu pemuda Banjar Pande yang ditunjuk sebagai penari Gandrung pun mengaku harus melakukan berbagai adaptasi. “Biasanya kan saya menarikan tarian cowok, tapi sekarang cewek ya harus lemuh dan mencoba gerakan-gerakan lain,” ungkap Kadek yang sudah dihias bak penari wanita.
Menginjak umur 16 tahun, ini adalah pertama kalinya Kadek menarikan tari Gandrung. Ditanya mengenai perasaan, Kadek hanya tertawa. “Bangga tapi, karena bisa ikut melestarikan.” Tutupnya. Acara ini pun dipadati penonton, mereka antusias untuk menonton penampilan Gandrung perdana dari Sekaa Gandrung Smara Ratih. (kb)

















