Ogoh-ogoh Juara I Kecamatan Mulai Diboyong ke GWS, Lika-liku Jalan dan Kabel Jadi Tantangan

TABANAN, Kilasbali.coma – Sejumlah ogoh-ogoh juara I tingkat kecamatan di Kabupaten Tabanan mulai dikirim ke Taman Bung Karno pada Kamis (12/3).
Seluruh karya seni tersebut akan memeriahkan Festival Ogoh-ogoh Singasana III 2026 sekaligus beradu untuk merebut predikat juara I tingkat kabupaten.
Salah satu peserta, yakni Sekaa Teruna-Teruni (STT) Yowana Bhakti Kencana dari Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, harus menempuh perjalanan melelahkan selama tujuh jam untuk membawa karya mereka menuju arena festival.
Jalan berlika-liku ditambah dengan kabel yang melintang sepanjang jalur yang ditempuh menjadi tantangan kelompok muda-mudi tersebut untuk membawa karya mereka.
Undagi ogoh-ogoh STT Yowana Bhakti Kencana, I Wayan Yedi Supardiyana, mengungkapkan rombongannya berangkat dari Banjar Bajera Kaja sekitar pukul 08.30 Wita dan baru tiba di lokasi sekitar pukul 15.30 Wita.
Padahal, waktu tempuh normal dari Bajera menuju Tabanan yang menjadi lokasi penyelenggaraan festival dan lomba sekitar tiga jam perjalanan.
“Hambatan terbesar karena banyak kabel dan pohon perindang yang melintang di jalan. Kecepatan mobil bahkan hanya sekitar lima kilometer per jam,” tuturnya.
Kecepatan rendah terpaksa diambil guna menghindari kerusakan fatal akibat ranting pohon atau kabel yang posisinya terlalu rendah.
Di wilayah Sembung, rombongan bahkan sempat tertahan cukup lama karena adanya pohon bambu yang miring ke arah badan jalan.
Selain hambatan fisik, cuaca buruk berupa hujan deras disertai angin kencang mendadak turun setelah rombongan menempuh jarak dua kilometer.
Meski ogoh-ogoh telah ditutup plastik, beberapa bagian seperti cat, kain piyasan, hingga anatomi dilaporkan tetap mengalami kerusakan.
“Saat ini masih dilakukan perbaikan di beberapa bagian yang rusak akibat hujan yang tidak terduga,” ungkapnya.
Selama perjalanan, para anggota sekaa teruna juga beberapa kali harus berhenti untuk beristirahat.
Beberapa di antara mereka harus berjalan kaki sembari membawa bambu untuk membantu memberikan ruang gerak bagi ogoh-ogoh yang melintas di bawah kabel.
“Rombongan biasanya berhenti setelah menempuh jarak sekitar lima hingga sepuluh kilometer karena lelah,” imbuhnya.
Yedi berharap ke depan jalur yang dilalui untuk pengiriman ogoh-ogoh mendapat perhatian khusus, terutama terkait pemangkasan pohon perindang serta penataan kabel yang melintang.
Ia juga menyarankan agar rata-rata ketinggian ogoh-ogoh peserta lomba menjadi pertimbangan teknis bagi penyelenggara.
“Ke depan tentu kami berharap ada perhatian untuk jalur yang dilalui ogoh-ogoh, agar perjalanan (mengangkut ogoh-ogoh) bisa lebih aman,” cetusnya.
Ogoh-ogoh STT Yowana Bhakti Kencana tahun ini berujudul Dewi Gagar Mayang Duka yang terinspirasi dari kisah sekaa joged klasik di banjar tersebut.
Biaya pembuatan ogoh-ogoh itu mencapai Rp 45 juta dengan lama pengerjaan lebih dari dua bulan sejak Desember 2025 lalu.
Hingga sore hari, sudah ada lima ogoh-ogoh yang tiba di lokasi secara bertahap sesuai jadwal yang direncanakan Dinas Kebudayaan (Disbud) Tabanan. (c/kb)

















