Dari Barongsai Hingga Jaipongan Meriahkan Parade Nusantara di Festival Imlek di Tabanan

TABANAN, Kilasbali.com – Ribuan peserta dari berbagai komunitas meramaikan Parade Budaya Nusantara dalam Festival Imlek dan Cap Go Meh 2577 di Kabupaten Tabanan pada Senin (9/3).
Iring-iringan budaya lintas etnis ini menyedot perhatian masyarakat saat melintasi rute dari Vihara Dharma Catra menuju Taman Bung Karno atau panggung terbuka Garuda Wisnu Serasi.
Parade diawali dengan barisan Paskibraka yang disusul dengan iringan drum band Pemkab Tabanan.
Kemeriahan semakin memuncak saat atraksi barongsai mulai beraksi di sepanjang jalan yang diikuti iring-iringan dewa-dewi dalam tradisi Tionghoa.
Ada juga tokoh-tokoh utama dalam legenda perjalan Biksu Tong Sam Cong saat mengambil kitab suci ke barat seperti Sun Go Kong, Cu Patkai, dan Sha Wujing.
Kemudian iring-iringan yang mengenakan cheongsam atau gaun tradisional khas Tionghoa dengan ciri khas kerah yang tegak.
Selanjutnya, beragam kesenian Nusantara turut mewarnai barisan parade tersebut, mulai dari Jaipongan dan atraksi Jawara Sunda hingga tarian khas Timor dari komunitas Flobamora.
Nuansa musik Timur Tengah yang ritmis turut menyemarakkan parade itu dengan adanya iring-iringan Hadrah dari Banjar Tunggal Sari.
Tidak ketinggalan juga, ada iring-iringan kesenian tradisional Bali seperti barong bangkung. Bahkan, barong landung yang sarat pesan akulturasi budaya antara Bali dan Tionghoa.
Keberagaman parade juga terlihat melalui barisan Pelangi Harmoni yang melibatkan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), pemuda lintas agama, hingga kelompok Anak Nusantara.
Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, bersama wakilnya, I Made Dirga, tampak ikut dalam parade tersebut. Demikian juga dengan Raja Tabanan, Ida Cokorda Anglurah Tabanan.
Di kesempatan itu, Sanjaya menyebut Parade Imlek sengaja dirancang untuk merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa sekat perbedaan.
“Festival ini bukan hanya menampilkan budaya Tionghoa, tetapi juga melibatkan berbagai budaya lain. Ada budaya Sunda, Islam, Kristiani, Hindu, semuanya bergabung dalam satu barisan,” ujar Sanjaya.
Ia mengibaratkan keberagaman dalam pelaksanaan parade tersebut seperti racikan bumbu masakan yang menyatu dengan sempurna. Demikian juga dengan harmoni kehidupan yang hendak dikembangkan dan dipertahankan di Tabanan.
“Kalau masak nasi goreng semuanya dicampur. Ada nasi, garam, telur, ayam, sayur. Begitu juga harmoni di Tabanan. Kalau semua bersatu, rasanya jadi enak,” pungkasnya. (c/kb)

















