Marmar Herayukti Hadirkan Diorama di Monumen Perjuangan Puputan Badung

DENPASAR, Kilasbali.com – Seniman muda Bali, Marmar Herayukti menghadirkan diorama peperangan Puputan Badung di Monumen Perjuangan Puputan Badung.
Tepatnya di bawah Patung Pahlawan di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, Bali. Peresmian diorama ini dilakukan Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara, Jumat (14/11).
Marmar mengatakan, diorama ini dihadirkan untuk melengkapi patung pahlawan yang sudah ada dan sekaligus memperkaya cara masyarakat mengenang dan merasakan kembali semangat heroik peristiwa Puputan Badung.
Melalui panel logam yang dicor dengan detail presisi, Marmar Herayukti mengubah memori sejarah menjadi narasi visual kontemporer yang memadukan riset sejarah, keterampilan tangan, dan emosi.
Diorama Puputan Badung ini menggambarkan aksi perlawanan tragis namun penuh kehormatan dari keluarga kerajaan dan rakyat Badung terhadap pasukan kolonial Belanda sebagai perwujudan semangat abadi masyarakat Bali: persatuan, kehormatan, loyalitas dan pengorbanan diri.
Jauh melampaui pelestarian budaya dan sejarah Bali, Marmar Herayukti ingin bertutur melalui diorama ini secara jujur berdasarkan fakta tulisan dan artefak yang ada.
Marmar Herayukti ingin memunculkan detail cerita ke dalam detail tiga dimensi untuk melengkapi potongan sejarah yang telah ada.
Selain itu, Marmar Herayukti berharap karya ini dapat membangun fondasi generasi muda untuk meneruskan rasa cinta terhadap sejarah dan identitas budaya Bali.
Salah satu aspek penting dari penataan baru Monumen Puputan Badung adalah upaya mewujudkannya sebagai ruang sejarah yang inklusif dan ramah disabilitas.
Monumen kini dilengkapi fasilitas ramp dan guiding block bagi penyandang tunanetra dan tunadaksa, hasil rancangan konseptual Marmar Herayukti.
Menurut Marmar Herayukti, penyandang disabilitas berperan sama pentingnya dalam sejarah perlawanan terhadap penjajahan.
“Orang yang tak dapat berjalan pun punya hak menentukan ‘langkah’, dan yang tak melihat tetap memiliki ‘pandangan’. Yang melumpuhkan bukanlah kekurangan fisik, melainkan kelumpuhan semangat,” ujar Marmar Herayukti. (jus/kb)

















