
TABANAN, Kilasbali.com – Susiani (53) menjadi salah satu warga yang tempat usahanya di lingkungan Perumahan Lembah Sanggulan, Desa Banjaranyar, Kecamatan Kediri, amblas akibat longsor pada Rabu (10/9).
Tempat usahanya yang berupa warung dan jasa laundry amblas begitu saja. Tidak ada yang tersisa dari tempat usahanya tersebut. Bahkan, mesin pertamini dan kulkas display miliknya sudah tenggelam ke dasar tanah.
“Sudah kesekian kalinya, ini yang paling parah. Semuanya tidak ada yang sisa,” kata Susiani saat dijumpai pada Rabu (10/9) siang.
Ia bersama keluarganya selamat dalam musibah itu. Saat ini, ia tinggal bersama anaknya tidak jauh dari warung sekaligus tempat laundry miliknya yang amblas di pinggir sungai atau Tukad Yeh Dati.
“Saya tutup (warung) sekitar jam dua belas malam. Saya mau tidur, tetapi saya tidak bisa tidur. Saya cuma dapat tidur setengah jam. Kemudian, saya dibangunkan tetangga. Pintu rumah digedor-gedor,” imbuhnya.
Sewaktu terjaga, sambung Susiani, kakinya sudah gemetar melihat kondisi di tempatnya yang sudah banjir yang berasal dari luapan air sungai. “Kaki saya sudah gemetar,” sambung perempuan asal Kabupaten Jember, Provinsi Jawa Timur ini.
Menurutnya, sewaktu banjir yang terjadi beberapa bulan lalu, dirinya masih bisa menyelamatkan barang-barang yang dijualnya di warung. Namun, tidak untuk musibah kali ini.
“Yang ada saya pikirkan cucu. Suami saya suruh ajak cucu ke sini,” beber Susiani yang dijumpai di rumah salah satu anaknya dekat warungnya yang amblas tersebut.
Ia sempat berusaha menyelamatkan barang-barang dagangannya yang beberapa di antaranya baru saja dibeli. Seperti galon-galon air mineral yang kosong atau tabung gas elpiji.
“Terus tutup pintu-pintu yang bisa saya tutup. Saya sudah berusaha. Tapi air sudah naik ke rumah. Saya pikir, kok semakin tinggi?” tuturnya.
Karena air terus meluap, ia tinggalkan barang dagangannya dan memeriksa tempat laundry yang juga miliknya. Namun, sekitar setengah jam kemudian, ia bersama beberapa warga lainnya yang terjaga mendengar bunyi gemuruh.
“Rumah di timur dan belakang (warung) saya amblas. Kemudian dengar bunyi yang sama lagi. Sampai empat kali. Akhirnya (warung) saya yang amblas semuanya,” bebernya.
Ia sendiri belum bisa memastikan berapa jumlah kerugian yang dideritanya akibat musibah itu. Saat ini, ia masih berusaha menenangkan diri di rumah anaknya. (c/kb)

















