
JEMBRANA, Kilasbali.com – Wakil Gubernur Bali, I Nyoman Giri Prasta didampingi Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, Gede Teja, bantuan bencana di Bumi Makepung Jembrana, Kamis (5/11). Tepatnya di Balai Subak Pangkung Buluh, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara.
Bertajuk ‘Penyerahan Bantuan Sosial Pemerintah Provinsi Bali kepada Korban Bencana/Musibah’, juga dihadiri Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, dan Kalaksa BPBD Jembrana.
Pada penyerahan kali ini, total bantuan yang disalurkan sebesar Rp 304.000.000,- untuk 30 orang penerima dengan rincian: 3 penerima bantuan Perbaikan Rumah Masyarakat, 27 penerima bantuan Penguatan Ekonomi, yakni petani di Desa Kaliakah, Manistutu, dan Banyubiru yang mengalami gagal panen akibat bencana kekeringan. Untuk gagal panen ini baru tahap I. Masih ada rencana usulan tahap II dari Jembrana, namun masih proses verifikasi.
Penyerahan di Jembrana ini merupakan penyerahan bantuan yang ke-10 kalinya di Kabupaten Jembrana sepanjang tahun 2026. Sebelumnya, sudah 9 kali penyerahan dengan total nilai Rp 507.500.000,-, ehingga total bantuan untuk Kabupaten Jembrana sampai dengan bulan November 2026 mencapai Rp 811.500.000. Artinya, setiap ada bencana/musibah yg diusulkan bantuannya ke provinsi selalu dipenuhi.
Tidak hanya untuk Jembrana, sampai saat ini bantuan Provinsi sudah tersalurkan Rp 11,7 Miliar untuk 533 penerima, di seluruh Bali, kecuali Badung yang sudah mandiri.
Giri Prasta menyampaikan apresiasi kepada petani yang berjuang keras menghadapi musim kemarau agar tetap produktif menyediakan bahan pangan untuk kita semua. Bahwa sebagian kecil ternyata tetap mengalami gagal panen, maka pemerintah tetap turun tangan.
“Tahap pertama, terdapat 27 petani yang gagal panen diberikan bantuan. Nanti ada tahap II usulan jembrana, yang masih proses verifikasi. Bapak Gubernur tidak ingin para petani ini gagal begitu saja, harus dibantu mengatasi kerugiannya. Oleh karena itu BPBD telah memproses bantuannya,” ungkap Giri Prasta.
Dalam kesempatan itu Giri Prasta juga berdialog langsung dengan petani, terkait kendala-kendala yang dialami.
Para petani mengeluhkan terbatasnya akses air saat kemarau. Kalaupun ada bantuan sumur, masih menggunakan solar sehingga jadi kendala operasional. Kemudian alat-alat pertanian seperti traktor juga masih dibutuhkan. Selain itu petani juga berharap harga gabah stabil, diserap sesuai ketentuan.
Wagub menampung semua aspirasi dan akan tetap mengupayakan aspirasi tersebut terpenuhi melalui kolaborasi kabupaten dan provinsi. (M/kb)

















