
TABANAN, Kilasbali.com – Kepulan asap dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Mandung sisa kebakaran beberapa waktu lalu menjadi keluhan warga Desa Kukuh, Kecamatan Kerambitan.
Kepulan asap tersebut akan dirasa menggangu terutama pada malam hari. Ini membuat warga mesti menggunakan masker untuk mencegah gangguan pernapasan.
Tidak hanya asap, aroma gas berbau menyengat juga acap kali berkumpul di sisi utara areal penimbunan sebelum akhirnya terbawa hembusan angin ke arah pemukiman penduduk.
Perbekel Desa Kukuh, I Nyoman Widhi Adnyana, memaparkan bahwa masyarakat di wilayahnya telah berulang kali menjadi korban paparan asap sisa kebakaran tersebut.
Gangguan udara paling parah dirasakan warga saat memasuki waktu istirahat di malam hari. “Sudah sering kami kena dampak. Biasanya malam hari,” ungkap Widhi pada Rabu (2/9).
Untuk melindungi kesehatan warganya dari ancaman infeksi saluran pernapasan, pihak desa telah mengeluarkan instruksi untuk menggunakan pelindung wajah atau masker. “Kami arahkan gunakan masker terlebih dahulu,” imbuhnya.
Selain Desa Kukuh, dampak pencemaran udara ini juga meluas hingga ke pemukiman tetangga di wilayah Desa Samsam.
Perbekel Desa Samsam, I Dewa Made Sukma Medya, menyebut sebaran kabut asap dari TPA Mandung tidak merata di seluruh wilayahnya melainkan terkonsentrasi di satu dusun dinas.
Berdasarkan pemantauan wilayah, Banjar Dinas Lumajang menjadi titik yang paling rentan terpapar kabut sampah tersebut.
Menurutnya, embusan asap mulai memasuki wilayah pemukiman sejak tengah hari hingga menjelang petang. “Asap mulai memasuki wilayah tersebut di atas jam dua belas siang hingga sore,” ujar Sukma.
Kondisi yang fluktuatif juga menjadi perhatian serius di Banjar Mandung yang secara geografis berada paling dekat dengan pusat pembuangan.
Kepala Wilayah Banjar Mandung, I Gusti Made Ari Widhiyana, mengungkapkan bahwa arah mata angin menjadi penentu utama tingkat ketebalan asap yang menyelimuti perumahan warga di sisi utara TPA.
“Untuk wilayah Mandung kawasan yang paling sering terdampak kepulan asap adalah area perumahan. Meski begitu, hingga kini belum ada laporan dari warga mengenai gangguan kesehatan akibat asap. Namun kami terus monitoring jika sewaktu-waktu asap menebal dan warga membutuhkan pertolongan,” bebernya.
Menanggapi keluhan masyarakat yang kian meluas, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tabanan segera menyiapkan langkah medis darurat.
Kepala DLH Tabanan, I Made Surya Dharma, berencana menggandeng pihak puskesmas setempat untuk memantau kondisi fisik warga terdampak.
“(Kami) segera koordinasi dengan Puskesmas Kerambitan dan komunikasi langsung bersama perbekel desa yang terdampak akan dilakukan,” kata Surya.
Meskipun koordinasi kesehatan mulai dirancang, fokus utama pihaknya tetap ditujukan pada pemadaman bara api di bawah gunungan sampah. “Tapi (kami prioritas melaksanakan) pendinginan dulu di lokasi dan penanganan,” bebernya.
Pihaknya juga sudah mengerahkan petugas kebersihan untuk melakukan penyiraman secara berkala pada titik-titik panas untuk mencegah meluasnya kebakaran. “Pagi, siang, sore pendinginan di areal yang terbakar. Itu sudah SOP rutin,” jelasnya.
Untuk mempercepat proses evakuasi udara bersih, sebanyak sepuluh personel diterjunkan dengan sistem kerja bergilir (shift).
Mereka akan mendinginkan timbunan sampah yang masih membara setiap pagi dan sore hari dengan cara diguyur menggunakan air.
Upaya penyiraman intensif ini dipastikan akan terus dilakukan sampai situasi lingkungan benar-benar aman dari kepulan asap. “Hingga titik-titik yang masih mengeluarkan asap dan bara dapat dikendalikan,” pungkasnya. (c/kb)

















