Prajuru Pura Batukaru Setuju Upaya Polres Tabanan Terapkan Satu Pintu Pendakian

TABANAN, Kilasbali.com – Prajuru Pura Luhur Batukaru menyatakan dukungannya terhadap rencana Polres Tabanan untuk memperketat aktivitas pendakian di Gunung Batukaru melalui sistem satu pintu.
Sikap ini diambil untuk mengurangi kejadian pendaki yang hilang, tersesat, hingga meninggal dunia di kawasan hutan lindung Gunung Batukaru yang juga merupakan area suci tersebut.
Bendesa Adat Wangaya Gede sekaligus pengurus Pura Luhur Batukaru, I Ketut Sucipto, menegaskan bahwa pihaknya menyambut baik niat kepolisian demi keselamatan bersama.
Ia menjelaskan bahwa pihak desa adat sebenarnya sudah berulang kali mengingatkan pentingnya aturan pendakian sejak beberapa tahun silam.
“Kami tidak melarang warga (melakukan aktivitas pendakian di Gunung Batukaru). Tetapi, bagaimanapun juga kebebasan juga ada batasnya,” ujar Sucipto pada Selasa (7/7).
Sucipto menekankan, pendaki seharusnya tidak sekadar menikmati keindahan alam sekehendak hati, namun wajib menghormati status Gunung Batukaru sebagai areal suci.
Pengawasan ketat dinilai krusial karena insiden fatal masih terus berulang meski upaya peringatan telah sering dilakukan sebelumnya. “Bukan melarang. Ikuti aturannya,” tegas Sucipto.
Menurutnya, menjaga perilaku dan perbuatan selama mendaki adalah kewajiban yang harus dipatuhi oleh setiap orang.
Rencana penerapan akses satu pintu oleh pihak kepolisian dianggap sebagai solusi untuk memudahkan pemantauan arus pendaki.
Prajuru meyakini koordinasi yang baik antara kepolisian, pemerintah daerah, dan desa adat akan menciptakan sistem pengawasan yang lebih baik lagi.
“Bagus sekali kalau memang ke depannya satu pintu. Akan memudahkan pengawasannya,” sebutnya.
Apalagi, sambung Sucipto, penertiban ini juga sejalan dengan pesan spiritual yang diterima pihak prajuru saat rangkaian pujawali pada hari suci Galungan belum lama ini.
Sucipto mengungkapkan adanya momen nuur baos di mana muncul peringatan terkait keselamatan di kawasan gunung tersebut.
“Bukan kami yang memohon, secara langsung Beliaulah yang menyampaikan seperti itu (soal pendakian yang sering disertai orang hilang, tersesat, hingga meninggal dunia,” jelasnya.
Hal itu juga yang membuat pihaknya selaku prajuru memiliki keyakinan kuat agar aturan pendakian harus segera ditertibkan lagi.
Selain sistem satu pintu, prajuru juga mendorong agar setiap aktivitas pendakian didampingi oleh pemandu lokal guna memastikan kepatuhan terhadap aturan adat dan teknis keselamatan.
Keberadaan pemandu murni bertujuan untuk pendampingan dan bukan untuk mencari keuntungan materi semata. “Poinnya ikuti aturan,” pungkasnya. (c/kb)

















