Nampah Kebo : Tradisi Unik Jelang Galungan di Desa Pandak Gede

TABANAN, Kilasbali.com – Nampah Kebo atau berkurban kerbau menjadi tradisi unik menjelang Galungan yang berlangsung secara turun-temurun di Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri.
Demikian halnya dengan momen perayaan Galungan yang jatuh pada Rabu (19/11) kali ini. Tradisi ini masih dilaksanakan dan membuat beda dengan desa-desa lainnya di Bali.
Dalam Galungan kali ini, warga Desa Pandak Gede menyembelih delapan ekor kerbau. Jumlahnya disesuaikan dengan delapan banjar yang ada di desa itu.
Menurut tokoh masyarakat Desa Pandak Gede, I Gusti Ketut Artayasa, tradisi ini diperkirakan sudah ada sejak 1360.
Di masa itu, para tetua di Desa Pandak Gede yang rata-rata bekerja sebagai pedagang menggelar perayaan yang menyajikan masakan berbahan daging kerbau.
Sejak saat itu, tradisi ini terus berlanjut hingga sekarang. Bahkan, bila tradisi ini tidak dilakukan, warga setempat seolah tidak merayakan Galungan.
“Tidak pernah dilewatkan karena ini warisan. Justru, kalau tidak nampah kebo, kami seperti tidak merayakan Galungan,” jelas Artayasa yang akrab disapa Rah Bobby ini pada Senin (17/11).
Artayasa yang juga anggota DPRD Tabanan ini menyebutkan, seluruh bagian kerbau yang disembelih itu, mulai dari daging, kulit, hingga jeroannya akan dibagi-bagi ke dalam satu jujulan.
Selanjutnya, jujulan itu akan dibagikan kepada para warga yang ikut patungan dalam melaksanakan tradisi ini.
“Jika tidak bisa membeli satu jujulan, maka bisa dibeli setengah jujulan,” jelas mantan Perbekel atau Kepala Desa Pandak Gede ini.
Satu jujulannya, sambung Bobby, harganya mencapai Rp 400 ribu. “Satu jujulan itu isinya daging, kulit, hati (atau jeroan lainnya),” imbuhnya.
Ia tidak memungkiri, untuk mencari kerbau di Tabanan tidaklah mudah. Karena itu, proses untuk mencari kerbau yang hendak dikurbankan dilakukan hingga ke Kabupaten Jembrana.
“Harga satu ekornya antara Rp 26 sampai 28 juta. Ada yang dicari ke Jembrana. Ada juga yang dicari ke Senganan di Kecamatan Penebel, Tabanan,” bebernya.
Menurutnya, satu ekor kerbau yang disembelih bisa terbagi menjadi 70 sampai 75 jujulan. Nantinya, jujulan itu akan dibagikan kepada para warga yang patungan di tradisi ini.
Biasanya, kegiatan nampah kebo dilaksanakan warga setempat sebelum hari penampahan Galungan.
Ini karena di hari penampahan biasanya beberapa warga sudah ada yang melakukan persembahyangan atau kegiatan yang terkait persiapan di hari Galungan.
Nantinya, daging kerbau yang disembelih itu akan diolah menjadi beberapa jenis masakan. Sebagian di anyaranta dipakai untuk kepentingan upacara saat Galungan.
Olahan daging kerbau itu sendiri beraneka rupa. Mulai dari dendeng, tum atau daging cincang yang dibungkus daun pisang kemudian dikukus, lawar, hingga rawon. (c/kb)

















