SRMP 17 Tabanan Masih Terkendala SDM padahal Sudah Masuki Kurikulum Inti

TABANAN, Kilasbali.com – Aktivitas belajar mengajar di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 17 Tabanan yang terpusat di Sentra Mahatmiya Bali mulai memasuki kurikulum inti setelah sebelumnya masih pada tahap pengenalan atau matrikulasi.
Di tengah peralihan ini, SRMP 17 Tabanan masih berupaya memenuhi keperluan SDM (sumber daya manusia) seperti tenaga pendidik maupun penunjang aktivitas pendidikan. Sedangkan, untuk pemenuhan jumlah murid akibat adanya dua orang yang mundur secara perlahan diisi.
Seperti dikatakan Kepala SRMP 17 Tabanan, I Putu Jaya Negara, kuota dua orang murid yang mundur telah terisi oleh satu orang dari keluarga kurang mampu di Desa Dajan Peken, Kecamatan/Kabupaten Tabanan.
“Sudah ada penggantinya. Satu orang. Dari Tabanan. Desa Dajan Peken. (Anaknya) dari keluarga kurang mampu dan salah satu orang tuanya penyandang disabilitas,” kata Jaya Negara pada Senin (20/10).
Ia menceritakan, murid itu sebelumnya sempat mengenyam pendidikan di sekolah reguler. Namun, karena kondisi ekonomi keluarganya, murid itu sempat putus sekolah saat duduk di bangku kelas tujuh.
“Seharusnya (murid itu sekarang) sudah kelas delapan. Tapi, terpaksa terhenti di kelas tujuh. Sedangkan untuk satu kuota masih diupayakan lagi oleh Kemensos (Kementerian Sosial),” imbuhnya.
Di luar itu, mulai Oktober 2025, kegiatan belajar mengajar sudah memasuki kurikulum inti. Sebelumnya, sejak Juli 2025 para murid lebih banyak menjalankan aktivitas belajar mengajar dalam kemasan kurikulum maktrikulasi atau persiapan.
“(Matrikulasi) itu lebih bersifat persiapan. Lebih pada penyiapan peserta didik untuk masuk ke kurikulum inti seperti penguatan karakter dan pengenalan dasar-dasar kurikulum inti,” jelas guru yang berasal dari Desa Kukuh, Kecamatan Marga, ini.
Saat ini, sambungnya, aktivitas belajar mengajar sudah memasuki kurikulum inti yang sama seperti diberlakukan pada sekolah reguler.
Saat disinggung garis waktu penerapan kurikulum inti antara sekolah reguler yang sudah mulai sejak Juli 2025 sedangkan SRMP baru pada Oktober 2025, menurutnya itu tidak akan berpengaruh signifikan.
Ia menjelaskan, ketercapaian materi disesuaikan dengan kondisi masing-masing murid dan tidak akan terpengaruh pada capaian akademis. “Karena SR (sekolah rakyat) ini perlakuannya khusus,” tegasnya.
Kendati demikian, pihaknya masih berharap keperluan mengenai tenaga pendidik dan penunjang aktivitas pendidikan segera bisa terpenuhi oleh pihak yang berwenang. Misalnya, tenaga pendidik atau guru agama Katolik.
“Hanya kurang guru agama Katolik. Ini masih dikonsultasikan ke pusat melalui Kantor Kementerian Agama. Kami berharap dapat terpenuhi karena di sekolah kami ada empat murid beragama Katolik,” bebernya.
Sedangkan untuk tenaga penunjang pendidikan, menurut Jaya Negara, sejatinya sudah ada empat tenaga penunjang yang telah terbit surat penugasannya. Tenaga penunjang itu terdiri dari tiga petugas kebersihan dan satu orang satpam.
“Surat penugasannya sudah ada tetapi belum ada yang lapor ke sekolah. Tenaga itu antara lain tiga petugas kebersihan dan satu orang satpam,” pungkasnya. (c/kb)

















