
TABANAN, Kilasbali.com – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan mencatat setidaknya ada 17 titik lokasi bencana yang disebabkan hujan deras sepanjang Minggu (6/7) lalu.
Bencana yang terjadi sepanjang Minggu sore sampai dengan malam hari itu sebagian besar dalam bentuk longsor dan banjir yang tercatat di Kediri dan Marga dan beberapa wilayah kecamatan lainnya.
Di Kecamatan Kediri, bencana yang mendominasi adalah banjir. Sedangkan, longsor terjadi sebagian besar di Marga. Di luar dua wilayah itu, bencana juga terjadi di beberapa kecamatan lainnya.
Kepala Pelaksana BPBD Tabanan, I Nyoman Srinada Giri, menyebutkan bahwa sampai saat ini timnya masih melakukan pembersihan terhadap sisa-sisa yang ditimbulkan akibat rentetan bencana tersebut.
“Tadi pagi, tim kami juga melanjutkan (tugas) ke wilayah Pandak dan Kerambitan. Sedangkan untuk penanganan pasca bencana, kami masih menunggu permohonan resmi dari warga yang terdampak,” kata Srinada Giri pada Rabu (9/7).
Masih terkait penanganan pasca bencana, ia menyebutkan bahwa setelah permohonan masuk, pihaknya akan menyusun RAB atau rencana anggaran biaya untuk diajukan ke Bupati Tabanan.
Sebab, bantuan penanganan bencana yang diberikan bersifat stimulan dan dalam bentuk bahan bangunan sesuai kebutuhan warga yang terkena dampak bencana yang bersumber dari Belanja Tidak Terduga (BTT) yang dirancang sebesar Rp 5 miliar dalam APBD 2025.
Ia menjelaskan, BTT sebesar itu dialokasikan ke beberapa organisasi perangkat daerah atau OPD teknis. Salah satunya ke Dinas PUPRPKP.
Terkait dengan bencana baru-baru ini, Srinada menyebutkan bahwa ada beberapa bencana yang dipicu sampah serta keberadaan bangunan di bantaran sungai.
“Bukan semata-mata karena hujan deras. Banyak sungai yang dulunya lebar delapan meter, sekarang tinggal empat meter karena dipenuhi sampah dan bangunan. Ini yang membuat air tidak bisa mengalir dengan lancar saat debitnya membesar dari hulu,” jelasnya.
Karena itu, ia juga mengimbau kepada masyarakat untuk memperhatikan kondisi sungai di lingkungan masing-masing guna menghindari potensi banjir yang dipicu luapan air sungai. (c/kb)

















