Masuryak dan Entil Sanda Lolos Sebagai Warisan Budaya Tak Benda

TABANAN, Kilasbali.com – Dua tradisi khas di Kabupaten Tabanan yakni Masuryak dan Entil Sanda lolos sebagai warisan budaya tak benda.
Rencananya, penetapan tradisi masyarakat dan tradisi dalam wujud kuliner itu akan ditetapkan pada Desember 2025 mendatang.
“Tinggal nanti penetapannya kalau tidak salah pada Desember 2025,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Tabanan, I Made Subagia, pada Minggu (19/10).
Ia menjelaskan, pengusulan tradisi Masuryak dan Entil Sanda di Kecamatan Pupuan itu sudah dilakukan sejak awal 2025 ini.
“Berita acara lolos seleksi sudah diumumkan saat sidang pleno yang kami ikuti di Jakarta belum lama ini,” ungkap Subagia.
Dengan penetapan sebagai warisan budaya tak benda, tradisi Masuryak dan kuliner Entil Sanda ke depannya akan mendapatkan program perlindungan, penguatan, dan pengembangan.
“Biasanya nanti aka nada program perlindungan, penguatan, dan pengembangan,” imbuh Subagia.
Baik Masuryak maupun Entil Sanda merupakan tradisi khas Kabupaten Tabanan yang biasanya ada di saat hari suci Galungan dan Kuningan.
Tradisi mesuryak adalah ritual yang dilakukan masyarakat Desa Adat Bongan, Kecamatan Tabanan, di saat hari suci Kuningan.
Tradisi masyarakat ini dilakukan dengan pelemparan dan perebutan uang sebagai bentuk rasa syukur, sukacita, dan bekal bagi leluhur yang kembali ke sunialoka.
Sesuai namanya, masuryak berasal dari kata suryak yang berarti sorak atau teriak. Sehingga masuryak bermakna berteriak atau bersorak untuk mencerminkan kegembiraan.
Sementara itu, Entil Sanda merupakan tadisi dalam wujud kuliner yang ada di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan.
Biasanya, masakan ini akan dibuat saat hari Ulihan yang ada di antara hari Galungan dan Kuningan.
Entil merupakan menu tradisional khas yang menyerupai lontong karena sama-sama berbahan dasar beras.
Bedanya, Entil menggunakan daun kalingidi yang rupanya sekilas mirip daun kunyit sebagai pembungkusnya. Daun ini memberikan aroma khas dan membuat Entil awet.
Secara filosofis, penyajian Entil di hari Ulihan diyakini salah satu persembahan untuk mengantarkan leluhur warga Sanda yang telah tiada menuju sunialoka.
Selain itu, Entil juga menjadi bekal perjalanan bila warga Sanda melakukan perjalanan. Ini karena Entil relatif awet. (c/kb)

















