Museum Majapahit Lengkapi Tujuan Wisata di Tabanan

TABANAN, Kilasbali.com – Pilihan berwisata di Kabupaten Tabanan kian beragam seiring kehadiran Museum Majapahit.
Sesuai namanya, museum ini menyuguhkan sejarah kerajaan Majapahit yang pernah Berjaya di masa lampau dan kaitannya dengan Pulau Bali.
Lokasinya juga tidak sulit untuk dijangkau karena berada di kawasan objek wisata Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri.
Pada Sabtu (15/11), museum ini diresmikan dan rencananya akan dibuka untuk umum di akhir November 2025 ini.
Keberadaan museum itu diresmikan oleh Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, dan dihadiri seluruh perwakilan puri yang ada di Bali.
Direktur Utama Museum Majapahit di Tanah Lot, Bali, Gusti Made Suryantha Putra, berharap kehadiran museum itu bisa menjadi daya tarik wisata tambahan di Tanah Lot.
“Pengunjung bisa masuk ke museum terlebih dahulu, memahami sejarah Bali dan Majapahit, lalu menikmati panorama Tanah Lot sore hari,” ujar Suryantha.
Ia menjelaskan, inisiatif untuk membuka museum tematik ini tidak lepas dari gagasan koleganya, Reno Halsamer, yang memiliki ketertarikan kuat dengan sejarah dan budaya.
Suryantha yang akrab disapa Sena itu menyebutkan, rekannya sejak delapan tahun lalu sudah menggagas keberadaan museum tersebut.
Menurut koleganya itu, Bali mesti memiliki museum yang bisa menceritakan keterkaitannya dengan kerajaan Majapahit.
Pilihan tempatnya yang berdekatan dengan Tanah Lot juga bukan sekadar pilih. Pemilihan tempat museum itu juga dikaitkan dengan perjalanan spiritual Dang Hyang Nirartha.
Sesuai sejarah, Pura Pakendungan yang berdekatan dengan Pura Luhur Tanah Lot merupakan tempat pertama kalinya tokoh spiritual Hindu itu tiba di Bali.
Ia juga berharap, keberadaan Museum Majapahit bisa menjadi kado bagi HUT Kota Singasana yang ke-532 di tahun ini.
Karena itu, peresmiannya diupayakan berlangsung di tengah-tengah perayaan HUT Kota Singasana yang akan mencapai puncaknya pada 29 November 2025 mendatang.
Ia menjelaskan, museum ini baru akan dibuka untuk umum di akhir November 2025. Untuk tiket masuknya ditetapkan Rp 20 ribu bagi wisatawan asing dan Rp 10 ribu bagi wisatawan domestik.
Sedangkan untuk jam bukanya dimulai dari pukul 08.00 Wita dan tutup pada 19.00 Wita. Jam operasional itu berbarengan dengan objek wisata Tanah Lot.
“Kami buat museum ini orientasinya bukan bisnis semata. Kami ingin mengedukasi anak muda agar semakin mencintai budayanya,” imbuh mantan anggota DPRD Bali ini.
Sementara itu, Reno Halsamer selaku penggagas menyebutkan bahwa keberadaan Museum Majapahit di Tanah Lot sejatinya bukan yang baru.
Namun, bagi Reno, Bali memerlukan keberadaan museum tematik tersebut untuk memberikan gambaran mengenai kejayaan Majapahit di masa lampau.
Terlebih, dalam pandangan Reno, Majapahit merupakan tonggak awal berdirinya Nusantara yang kini telah beralih menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Menurutnya, pertalian sejarah antara Bali dan Majapahit setidaknya terbagi ke dalam empat fase.
Dimulai dari fase prasejarah dengan adanya manusia purba di Batur yang diperkirakan berlangsung pada satu juta tahun lalu dan berlanjut dengan situs purbakala di Gilimanuk.
Berikutnya, fase kerajaan yang masuk pada wangsa Warmadewa sekitar abad ketujuh masehi dengan berdirinya kerajaan Bedahulu.
Kelak, dari kerajaan Bedahulu itulah pertalian sejarah dengan awal mula berdirinya Majapahit terbentuk dengan hadirnya sosok Raja Udayana yang merupakan anak dari Warmadewa.
Dari Raja Udayana lahir lagi Raja Airlangga yang mendirikan Kerajaan Kahuripan, kemudian Singasari, dan terakhir Majapahit.
Seluruh pembabakan sejarah itu dibagi ke dalam beberapa zona ruangan bernuansa gelap dan terhubung dari lorong ke lorong.
Untuk memudahkan pengunjung dalam memahami sejarah itu, seluruh koleksi museum yang ada di masing-masing zona disertai dengan QR Code atau kode batang.
Dengan kode batang itulah, pengunjung bisa memperoleh penjelasan utuh melalui ponselnya tanpa mesti didampingi pemandu dan dengan bahasa pengantar sesuai kewarganegaraannya. (c/kb)

















