Sanjaya Berharap Festival Tanah Lot Beri Dampak Sosial dan Ekonomi ke Masyarakat

TABANAN, Kilasbali.com – Tanah Lot Art and Food Festival atau yang dikenal juga dengan Festival Tanah Lot akan segera digelar kembali di 2025 ini.
Festival ini akan dimulai pada Jumat (22/8) mendatang. Bahkan, durasi pelaksanaannya di tahun ini bahkan diperpanjang.
Kalau sebelumnya, Festival Tanah Lot hanya digelar selama tiga hari. Di tahun ini, pelaksanaannya ditambah sehari. Sehingga, total pelaksanaannya selama empat hari.
Bupati Tabanan, I Komang Gede Sanjaya, berharap bahwa Festival Tanah Lot kali ini bisa memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Dari sisi sosial, festival ini bisa menjadi ajang membangun silaturahmi atau menyama braya antarwarga di Kecamatan Kediri dengan adanya partisipasi 23 desa adat.
Sedangkan dari sisi ekonomi, karena ini event ini konsep utamanya adalah festival kuliner, pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) merasakan dampaknya.
“Ini festival yang keenam. Keberhasilan event itu adalah adanya partisipasi masyarakat sekitar, sekaligus mereka mendapatkan dampak dan manfaatnya,” kata Sanjaya, Sabtu (16/8).
Sanjaya mengungkapkan itu saat memberikan keterangan pers terkait rencana pelaksanaan event Tanah Lot Art and Food Festival atau Festival Tanah Lot 2025.
Menurutnya, festival atau event sejenisnya perlu dilakukan sebagai media promosi. Itu sebabnya di berbagai daerah, hal serupa juga digelar.
Khusus di Festival Tanah Lot, ia berharap kegiatan rutin tiap tahun ini bisa mengenalkan khazanah kuliner yang ada di Tabanan.
Terlebih, dalam tiga kali pelaksanaan festival ini ada Klinik Kuliner dengan menu atau jajanan yang sekarang ini jarang dijumpai.
“Barangkali sudah ada yang tidak mengenal (kuliner tersebut). Dengan adanya festival ini bisa diangkat lagi,” sebutnya.
Upaya untuk mengenalkan kembali khazanah kuliner yang sudah jarang dijumpai ini akan lebih berkesan bila dibarengi dengan kesenian, budaya, dan hiburan.
“Kesenian selalu berkembang. Kuliner juga selalu berkembang,” tukasnya.
Ia berharap, Festival Tanah Lot bisa menjadi titik kumpul bagi masyarakat Tabanan untuk membangun interaksi sosial maupun ekonomi.
Sehingga, interaksi yang terjadi itu sama-sama bisa memberikan manfaat kepada seluruh masyarakat.
Baik yang datang untuk menikmati hiburan atau kuliner, maupun mereka yang melakoni UMKM di bidang kuliner.
“Festival ini bisa jadi titik kumpul masyarakat. Dari titik kumpul inilah ada interaksi. Festival ini menjadi penggerak ekonomi,” tukasnya.
Pelaksanaan Festival Tanah Lot yang keenam kali ini diperkirakan akan mempengaruhi tingkat kunjungan ke Tanah Lot.
Seperti diungkapkan Manajer Daya Tarik Wisata (DTW) Tanah Lot, I Wayan Sudiana, kunjungan selama festival nanti diperkirakan enam ribuan orang, baik lokal maupun asing.
Namun, Sudiana menjelaskan bahwa pelaksanaan event yang sudah keenam kalinya ini tidak semata-mata menargetkan peningkatan kunjungan.
Lebih dari itu, pelaksanaan event ini diharapkan bisa memberi manfaat bagi masyarakat. Khususnya mereka yang melakoni usaha kuliner.
“Tidak semata-mata kunjungan. Yang tadinya (pelaku UMKM) belum dikenal, sekarang karena rajin ikut festival, usahanya dikenal. Di sisi lain, masyarakat juga dapat hiburan,” sebutnya.
Menurutnya, festival sebagai media promosi wisata akan memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Kalaupun terjadi peningkatan selama event berlangsung, kenaikannya diperkirakan ada di rentang enam ribuan orang.
“Sekarang kunjungan rata-rata 4.500 sampai lima ribu per hari. Kalau promosi, itu untuk jangka panjangnya,” pungkasnya.
Sebab, sambungnya, bicara soal kunjungan wisata, erat kaitannya dengan dinamika atau situasi masyarakat baik di tingkat nasional atau global.
“Sekarang terjadi penurunan kunjungan. Ini terjadi karena kurangnya rombongan siswa ke Tanah Lot karena adanya kebijakan tiap daerah yang berbeda-beda. Kemudian kemarin ada bencana alam (jalan Denpasar-Gilimanuk jebol),” bebernya.
Di tahun ini, Festival Tanah Lot 2025 mengangkat tema Prayajana Samudrasya Adiswara yang bermakna Persembahan dan Pengorbanan Terhadap Kekuatan Samudra Menuju Keharmonisan, Keagungan, dan Kemuliaan Tanah Lot.
Nantinya, festival akan terbagi ke dalam dua segmen : pagi sekitar pukul 10.00 – 18.30 Wita. Selanjutnya, segmen kedua pada malam hari dari pukul 18.30 Wita – 23.00 Wita.
Di antara segmen itu akan ada Sunset in Paradise tetap menjadi agenda utama yang memungkasi segmen pagi.
Yang tidak kalah pentingnya yakni tentang kuliner, Klinik Kuliner masih tetap menjadi agenda utama dan dilengkapi dengan Legenda Kuliner.
Baik Klinik Kuliner dan Legenda Kuliner akan mengangkat beberapa menu masakan atau jajanan tempo dulu yang di masa lalu sempat digemari, namun belakangan mulai jarang dijumpai.
Adapun menu yang hendak diangkat dalam Festival Tanah Lot 2025 adalah Serapah atau lauk dari daging yang direbus dan dibalur base genep (bumbu rempah) dicampur santan dan tepung beras.
Berikutnya, Penyon atau Gecok. Ini merupakan lawar basah yang berbahan daging ditambah beberapa jenis sayuran seperti kacang panjang, nangka muda, atau daun belimbing. Bumbu yang digunakan hampir sama dengan Serapah. (c/kb)

















