
DENPASAR, Kilasbali.com – Aksi sederhana namun sarat makna ditunjukkan puluhan warga Serangan saat menyambut kehadiran Pansus TRAP DPRD Bali, Jumat (24/4). Mereka menyerahkan bunga mawar putih sebagai simbol harapan, kepercayaan, sekaligus doa agar perjuangan penataan ruang di Bali tetap berjalan lurus.
Bagi warga, mawar putih bukan sekadar tanda terima kasih. Bunga itu menjadi representasi ketulusan hati masyarakat yang selama ini merasa hak-haknya terpinggirkan, khususnya terkait aktivitas BTID di kawasan KEK Kura-kura Bali.
Perwakilan warga, Siti Sapurah (Ipung), menegaskan bahwa langkah Pansus TRAP menjadi titik awal harapan baru bagi masyarakat Serangan. Ia menyebut kehadiran tim pansus sebagai “pintu masuk” perjuangan untuk mengembalikan hak-hak warga yang selama ini terabaikan.
“Ini bukan hanya ucapan terima kasih, tapi juga harapan agar perjuangan ini tidak berhenti di sini,” ujar Ipung. Ia juga menyampaikan doa agar seluruh anggota pansus tetap diberi kesehatan dan kekuatan dalam menjalankan tugasnya.
Ketua Pansus TRAP DPRD Bali, I Made Supartha, memaknai bunga putih tersebut sebagai pengingat moral dalam bekerja. Menurutnya, warna putih mencerminkan kesucian niat, keikhlasan, dan komitmen untuk menjaga kepentingan masyarakat serta tata ruang Bali.
“Bunga ini menjadi simbol bahwa kami harus bekerja secara tulus, fokus, dan lurus,” tegasnya.
Lebih jauh, Supartha mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menjaga persatuan dalam merawat Bali. Ia menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjaga alam, manusia, dan budaya Bali, sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Dalam pernyataannya, ia juga kembali menegaskan posisi wakil rakyat sebagai pelayan masyarakat. “Rakyat adalah pemilik kedaulatan. Kami ada untuk melayani,” ujarnya.
Aksi pemberian mawar putih ini menjadi gambaran bahwa di tengah dinamika kebijakan dan pembangunan, masih ada ruang bagi dialog, simbol, dan kepercayaan antara masyarakat dan pemangku kebijakan. (jus/kb)

















