Karya Agung di Pura Nagasari Kutuh Sayan, Ubud

GIANYAR, Kilasbali.com – Dengan wajah sumringah, warga Banjar Adat Kutuh, Sayan, Ubud mempersiapkan Karya Agung di Pura Nagasari desa setempat. Wajah kewilayahan pun mulai bersolek dengan Barisan Penjor putih dan kuning di sepanjang jalan. Warga setempat penuh syukur, karena setelah 37 penantian, karya akhirnya digelar.
Kelian Adat Banjar Kutuh, Drs I Ketut Parsa, Kamis (16/10) mengungkapkan karya agung ini seyogyanya digelar 30 tahun sekali. Namun karena sempat terkendala biaya dan kesibukan krama adat, sehingga upacara ini baru bisa digelar di tahun ke 37. Dalam penantian yang cukup lama itu, tak ayal, krama adat Banjar Kutuh pun menyambutnya dalam penuh syukur.
“Tujuan upacara ini untuk mewujudkan harmonisasi alam dan meningkatkan sradha bhakti krama pada Ida Sang Hyang Widhi Wasa,” ujar Ketut Parsa,
Dijelaskan bahwa saat ini, persiapan sarana upakara telah mencapai 70 persen. Persiapan dalam hal ini bukan hanya dalam bentuk sarana upakara, tetapi juga termasuk renovasi pelinggih hingga pembuatan tembok penyengker pura, dan wantilan yang menghabiskan dana miliaran rupiah.
“Proses persiapan upacara sudah sejak tahun 2021 yang diawali dengan melakukan sejumlah renovasi hingga pembangunan penyengker dan Pura Melanting dengan menghabiskan dana hampir Rp 1 miliar,” ujar Parsa.
Penyempurnaan infrastruktur pura terus berlanjut hingga tahun 2025 ini, dimana pemerintah melalui dana desa mengucurkan dana sekitar Rp 350 juta untuk pembuatan tembok penyengker areal jaba pura, serta dana hibah Pemkab Gianyar sekitar Rp 1 miliar untuk pembuatan wantilan.
“Setelah renovasi dan pembangunan kami rasa sudah cukup, akhirnya per Januari 2025 direncanakan upakara ini, dengan persiapan dana sebesar Rp 1,5 miliar sampai 2 miliar. Dana itu berasal dari kas banjar, pepeson wajib ring krama adat yang jumlahnya 337 KK. Anggaran ini juga bersumber dari punia masyarakat, dan dana punia krama tamiu, serta dari pengusaha yang ada di Banjar Kutuh,” ujarnya.
Dalam meminimalisir penggunaan anggaran, Parsa bersama tokoh adat setempat pun menyepakati bahwa setiap sarana upakara, dikerjakan langsung oleh krama secara gotong royong. “Semua perlengkapan upacara dibuat di pura. Sampai hari ini sudah hampir 70 persen lebih sudah selesai,” tandasnya.
Tokoh masyarakat setempat pun jeli dalam mengantisipasi anggaran yang tiba-tiba membengkak, yang bisa membuat keuangan adat menjadi kelimpungan. Biasanya pembengkakan anggaran ini diakibatkan hukum pasar, dimana harga kebutuhan upakara biasanya tiba-tiba naik, karena musim upacara keagamaan di Bali.
Adapun prosesi ritual keagamaan yang telah berlangsung dalam upacara ini ialah, upacara Ngadegan Bagia Pula Kerti, yang digelar pada 15 Oktober kemarin. Disaksikan oleh Ida Cokorda Sayan, Bendesa Adat Sayan, Kelian Dinas dan Adat se Desa Sayan, hingga anggota DPRD Gianyar, Tjokorda Gede Asmara Putra Sukawati alias Cok Anom.
Sementara pada Sabtu, 18 Oktober nanti, Krama akan menggelar upacara Mendak Bhatara Pengerajeg Karya di Pura Batan Pule, Desa Mas, Ubud. Adapun prosesi puncak upacara akan berlangsung, Rabu Umanis Julungwangi, 5 November 2025, bertepatan dengan Purnama Kelima, atau hari piodalan di pura tersebut.
Selain persiapan dalam bentuk sarana upakara dan bangunan suci, Krama setempat juga telah mengumpulkan Tirta dari berbagai pura Sad Kahyangan, baik yang ada di Bali hingga ke Pulau Jawa. Terdiri dari Tirta di Pura Lempuyang, Pura Andakasa, Besakih, Batur, Uluwatu, Batukau, Puncak Mangu hingga Pura Mandara Giri Semeru Agung di Jawa Timur.desa lain. (ina/kb)

















